sumber gambar : pexels/pixabay

Interpretasi Lirik Lagu Banda Neira ke Dalam Cerpen

Sore itu, di antara sisa hujan, kau menyuruhku membuat dua cangkir teh. Padahal kamu tidak suka teh. Kamu itu sukanya kopi. Aku tahu sejak pertama kali kita bertemu di tempat romantis yang dulu kau rekomendasikan. Dan kau memesan 2 cangkir kopi tanpa bertanya dulu aku maunya apa.

Walau akhirnya ku iya kan saja dan memutuskan untuk meminumnya juga. Padahal kala itu adalah pertama kali bibirku menyentuh kopi lagi setelah 10 tahun silam saat kejadian asam lambungku naik hingga harus masuk ke rumah sakit akibat minum kopi ayahku tanpa bilang-bilang. Kenangan yang memalukan.

Walaupun sekarang nyatanya tak terjadi apa-apa setelah aku menenggak habis langsung kopimu itu dengan sedikit nyengir melirik ke arah kamu yang lagi heran melihat ekspresi kepahitan di wajahku. Dasar kamunya, ternyata itu kopi tanpa gula. Pahit banget. Hei jujur, apa dulu kamu sengaja ya ngerjain aku?

“Minumnya kayak kehausan gitu. Pelan-pelan. Kamu mau cepat-cepat mengakhiri obrolan kita ini ya?”

Aku menelan ludah mendengar suaramu. Tiba-tiba pengen air putih. Tapi kamu gak peka. Jadi kubiarkan saja diriku dalam kepahitan ini. Walau masih berusaha senyum manis di depanmu sambil menggelengkan kepala.

“Diatas bibir kamu tuh.” kamu terkekeh.

“Apa?” tanyaku polos.

“kacaan deh.”

Aku cepat-cepat melihat wajahku ke cermin yang sering kubawa di dalam tas. Dan oh sungguh memalukan. Tiba-tiba saja punya kumis. Apa kamu memang lagi ngerjai aku yang lagi grogi ini ya. Ckck

Pertemuan yang memalukan namun juga mengasyikkan. Karena dua minggu setelah itu, babak baru kebersamaan kita pun akhirnya dimulai!

~~~~~
Dua puluh tahun telah berlalu. Tepatnya hari ini, kau yang tak suka teh akhirnya merelakan untuk ikut meminumnya bersamaku di ruangan manis ini. Dengan piano yang sudah ada di depanmu dan siap kau mainkan. Begitu pun aku yang sudah duduk dekat menghadapmu dengan senyuman hangat yang tiap hari tak pernah lupa kuberikan padamu.

~~~~~
Pianomu mulai mengalun. Lembut. Aku tahu ini lagu siapa. Lagu pertama yang kita nyanyikan bersama kala itu. Dan kau bilang mendengar suaraku bagai menyaksikan matahari terbenam atau merasakan saat angin sejuk menghantam seluruh permukaan wajahmu.

Masih tertegun memandang wajah mulai menuamu itu. Walau garis pertama kali kita bertemu tak pernah lari dari ingatanku. Aku masih melihat jelas di sana.

SAMPAI JADI DEBU ~ Banda Neira

“Ayo menyanyi!” pintamu padaku.

~~~intro selesai..

(AKU)
Huuuuuuu huuuuuu… huuuuuuu huuuuu…
Huuuuu huu huuu…huuu huu…

💕💕
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah kumenuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Kuaman ada bersamamu
💕💕

Berpijak pada satu cinta, menuntut setia melebihi segalanya. Ingin hanya aku yang kau ingin. Juga mauku yang ada hanya cela menujumu, mengejarmu dan akhirnya bersamamu selamanya.

💕💕
Sela … manya … sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
💕💕

Tidak ada waktu sampai maut. Bahkan jika benar aku ingin kita bersama menjemputnya. Dan menempati tempat akhir walau hanya berdampingan. Tidak untuk satu. Sampai kita sama-sama hancur. Sama-sama jadi debu dan bertemu pada satu muara di bawah sana. Kemudian menjadi satu raga walau hanya berbentuk partikel-partikel kecil di antara banyaknya unsur tanah.

(KAMU)
💕💕
Badai puan tlah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersamamu
💕💕

Aku juga begitu, katamu. Kau ingin lebih dari sekadar hidup bersamaku. Namun mati pun. Kau bilang diriku aman bersamamu. Sampai nanti bahkan seribu tahun lagi. Walau entah di masa mana. Aku tak peduli.

💕💕
Sela … manya … sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
💕💕

Dan selamanya, sampai akhirnya kita menua bersama. Kau bilang akan selalu setia menggenggam tanganku, entah di saat aku takut dalam kesendirian atau takut berakhirnya kisah ini. Dan aku memercayai itu semua.
💕💕

~~~

Sampai ketika lagu ini berakhir, warna sore menjadi lebih muram. Denting pianomu mulai lemah. Aku tahu kau pasti lelah. Ya, setelah kita bernyanyi bersama tadi. Namun hari menjadi lebih gelap saat kudapati cangkir teh-mu masih terisi penuh. Dentingmu tak lagi mengalun. Dan bisikkan rindu tak jua lagi menaruh gelisah ingin memelukmu.

Kau menyangka aku pasti baik-baik saja kan?

Ya, untuk beberapa tahun aku berusaha tegar berjalan sendiri. Namun hari ini lain. Piano ini membuatku sakit. Secangkir teh ini mendorongku untuk menangis. Sesak kian membara. Aku tak bernyali lagi. Karena ternyata kau hanya bisa berjanji dan tak berdaya menepati lalu pergi sendiri.

Selamanya … jadi debu.

8 KOMENTAR

  1. Di kehidupan lain, sepertinya aku pernah membaca ini deh. Wkwkwkk. Benarkah?😉

    Ah, aku jadi ingat tulisanku yang menyertakan lagu ini. Butuh waktu tiga hari meratapi seseorang yang pergi tiba-tiba tanpa alasan yang saat ini tidak aku tahu. Hiks. Aku menyukai tulisanku itu. Mengingatnya, membuat aku punya banyak maaf untuk sosoknya. 😥😢

    • Wahahaa. Tiba2 pengen dengerin lagu itu lagi kak. Kadang lagu dan aroma sering mengingatkan pada masa2 tertentu ya. Eeak.

      Ah tiga hari? 😌 bentar kali. Sabar yo kak. Perpisahan itu memang … ah payah bilang. Wahaha

      🎵 Kini berpisah Sayang. Semoga kita bahagia…🎵