Aku melirik jam tangan, pukul satu siang lewat dua puluh lima menit. Ingin aku mendekatinya yang sedari tadi menunggu di bawah pohon flamboyan di taman sekolah. Lina, gadis manis, cinta pertamaku.

Firasatku mengatakan paman tidak bisa menjemput Lina siang ini, tetapi aku tetap harus bersabar dan menunggu hingga pukul setengah dua siang untuk bisa mengajaknya pulang bersama. Lima menit yang teramat panjang, kenapa jarum detik bergerak sangat lamban hari ini.

Lima menit menunggu telah habis dan aku mendekatinya. Setiap pagi, yang membuatku semangat pergi ke sekolah hanyalah untuk bertemu dengannya atau jika beruntung aku bisa memboncengnya pulang bersama, seperti hari ini.

Aku tersenyum pada jalan, pada jembatan dan pada ilalang yang mengiringi sepanjang perjalanan pulang. Menambah kesan romantis versi diriku. Aku ucapkan terima kasih pada orang-orang atau kegiatan yang membuat ayah Lina sibuk bekerja sehingga tidak bisa menjemputnya.

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone cold sober
I knew I loved you then
But you`d never know
`Cause I played it cool
When I was scared of letting go
I knew I needed you
But I never showed

Masih pohon flamboyan yang sama, pohon yang menaungi dirinya di taman sekolah.

And I want to tell you everything
The words I never got to say

*****

It`s funny how things never change in this old town

Putik bunga flamboyan berjatuhan dibelai angin, gemerisik daunnya menenangkan. Masih pohon flamboyan yang sama, kami terdiam.

“Aku pernah suka padamu, Lina” ucapnya setelah keheningan panjang yang bisa aku nikmati kembali bersamanya.

Sulit sekali rasanya untuk bernapas ketika telingaku mendengar ucapan tersebut. Aku terlena mendapati kenyataan yang terlalu menyenangkan, hingga luput dengan satu kata ‘pernah’, salah menafsirkan ucapnya.

Dengan wajah teduh yang sama dia kembali berujar, “Seandainya dulu aku seberani seperti sekarang.”

Then you smiled over your shoulder
For a minute I was stone cold sober

“Tapi, aku bersyukur tidak mengatakannya dulu, setidaknya kita tetap bisa berteman hingga sekarang.”

Aku masih mencerna kata-katanya.

“Kenapa baru kamu katakan sekarang,” hanya kalimat itu yang mampu aku ucapkan. Padahal aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyukainya.

“Aku takut perteman kita akan berakhir.”

Lidahku kembali kelu. Semua kenangan itu kembali menjelma dihadapanku. Diriku di bawah pohon flamboyan, tidak sabar menunggu, berharap detik mendahului ayah, agar aku bisa pulang bersamanya. Kenangan yang sama yang selalu terputar saat aku kembali ke sekolah ketika mendapati diriku merindukannya.

The smell of your perfume still stuck in the air
It`s hard
Yesterday I thought
I saw your shadow running around

Aku berharap jadi orang asing baginya, yang bertemu dan menyukai satu sama lain tanpa terhalang kata pertemanan.

Just say you won`t let go
And I know that it`s wrong
That I can`t move on

 

(Say you won`t let go mashup this tower_cover by Shaun Reynolds & Kaycee Da Silva)
Lirik

10 KOMENTAR

  1. B, kamu suka menuliskan apa yang ada di pikiran dan hatimu dengan memasukkan segala yang berjenis tumbuhan, ya? Terutama bunga. *Mengapa mataku mendadak buram, ya?😢😧

    Hal kecil yang memiliki kenangan, baik sedih atau senang, tetap saja bikin perasaan mengharu biru. Bikin dada menyempit seketika. Huuuuuaaaaa, aku kok jadi curcol. Maafkan.😵😂