“Yah, hujan lagi ya,” aku melirik pria yang duduk di sampingku tanpa permisi membuatku otomatis menggeser posisi agak menjauh darinya.

” Memang, bukannya kamu suka hujan?”tanyaku.

Pria bermata teduh ituΒ  tersenyum”siapa bilang? aku lebih suka kamu.”

Refleks aku menoleh kearahnya, mendengar kata-kata dia yang seperti tidak asing di telingaku itu, membuatku de Javu saja.

“Gak lucu.”

“Aku memang bukan pelawak Na, jadi tidak bisa melucu. Dan aku memang tidak sedang melucu, serius ini,” Raka menaik turunkan alisnya yang tebal seperti ulat bulu.

Aku memalingkan wajah kearah samping “Garing!”

“Asal bukan garong aja,”sahut Raka terkekeh, membuatku mendelik kearahnya.

“Kalau aku garong, bisa saja aku nekat menggarong hatimu Na.”imbuhnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya yang merah karena tidak pernah menghisap nikotin.

“Kamu ini! Berhenti menggombal!” hardikku mulai jengah, alih-alih Raka diam dia malah tertawa seperti tidak pernah aku bentak.

“Ingat Na, jangan terlalu benci nanti kamu jadi cinta sama aku lho.”

“Udah pernah!”seruku, sadar dengan apa yang aku ucapkan barusan aku memukul mulutku pelan. Ishh, lancang!

“Pernah?mendalam atau dangkal Na?” Raka merubah posisi duduknya menghadapku kedua tangannya bertumpu pada kedua pahanya.

“Lupa,” aku mengalihkan pandangan kearah rintikan hujan.

“Lupa ya?”

“Maaf ya aku sudah move on dari masalalu kelabu. Beda sama kamu pria gagal move on.”sindirku sarkas.

Raka menghela napas,” Bagaimana caramu bisa move on Na?ahh, aku iri. Karena sampai saat ini aku gak bisa move on.”

Aku melempar tatapan sinis pada pria berusia 32 tahun itu,” Bukan gak bisa move tapi gak mau move on.”

“Masa?tahu dari mana?”Aku merubah posisi menghadapnya, membuat kami saling berhadapan. Jantungku sedikit berdebar saat mata kami saling bertemu membuatku sejenak terlempar ke masa lalu. Tapi segera kutepis kilasan laknat itu.

“Bagaimana kamu bisa move on kalau semua yang mengingatkan pada masa lalu kamu simpan?”

“Hah?for example?”

“Jaket masih kamu pakai.”aku menunjuk jaket denim yang tersampir di bahunya.

“Memang harus gimana, sayang nih harganya mahal,”

“Bakar!atau kasih ke orang.”

“Wahh, kejam!”

“Sepatu.bakar!” Aku menendang pelan sepatu yang melekat di kaki Raka.

“Foto di handphone, hapus! Nomor kontak, hapus!dan satu lagi gak usah stalking apalagi ninggalin jejak di akun sosmed mantan kamu.”

Raka terdiam lalu menghela napas berat”, mungkin memang semua yang di bakar bisa hilang wujudnya Ra. Tapi apa kamu bisa menghilangkan kenangan di setiap benda yang kamu bakar atau hapus itu?”

Aku tercenung.

“Jaket ini misalnya kalau aku bakar mungkin hilang wujudnya tapi kenangannya gak bisa Na. Jaket ini pemberian kamu yang kamu beli dengan gaji pertama kamu, juga sepatu ini. Itu akan menjadi kenangan yang tidak bakal kamu lupa dan akan tersimpan di gudang memori kamu.” Raka menjelaskan panjang lebar.

“Kamu tidak akan pernah bisa menghapus kenangan Ra. Mereka akan terus ada di gudang memori kamu.”imbuhnya

“Oke, baiklah. Aku setuju, tapi mereka akan tersimpan dan tidak akan muncul lagi jika tidak ada yang mengingatkannya. Jadi salah satu cara agar kenangan masalalu tetap tersimpan rapi adalah dengan menghilangkan semua hal yang bisa mengingatkannya dan menimbunnya dengan kenangan yang baru,” aku tersenyum tipis kearahnya.

“Memang kamu sudah lupa pertama kali kita bertemu?pertama kali berkencan? Bergandengan tangan? Berciuman?”

“Aku sudah lupa, sebelum kamu mengingatkannya beberapa detik lalu. Dan tolong yang terakhir kita tidak pernah melakukannya.” Protesku tak terima dengan daftar dosa yang pernah aku lakukan dengannya dulu.

Raka terkekeh geli,”Jadi saran kamu apa biar aku bisa move on darimu wahai mantan terindah?”

Aku mendengus lalu menatapnya serius”, hapus semua tentangku Raka ganti dengan memori baru yang lebih indah. Kamu berhak bahagia, rasanya tak adil jika aku sudah bahagia dan kamu masih memikirkanku yang bahkan tidak pernah memikirkanmu.”

“Aku sudah berjodoh dengan yang lain Raka. Jadi, jemputlah jodohmu dan buat memori indah dengannya hingga semua memori tentangku mati dan terkubur dalam.” Aku beranjak dari dudukku saat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatku berteduh.

“Kalau aku gak bisa?”tanya Raka.

Aku tersenyum kearahnya,” pasti bisa. Aku pergi dulu suamiku sudah menjemput.” Kulambaikan tangan lalu berlari kearah pria yang menyambutku dengan payung biru di tangannya.

****

 

 

 

 

 

 

 

3 KOMENTAR