sumber: pixabay.com/Bru-nO

“Ni putrinya kapan nikah?”

“Haduh, jangan dulu, Mbak. Masang gas aja masih takut, buang tikus mati juga masih lari-lari jingkrak-jingkrak.”

Aku melirik anak cewekku yang menggerutu sebal aibnya kubuka di depan tetangga desa sebelah ini saat kami berpapasan habis beli minyak goreng. Aku sebenarnya tahu putriku pasti sudah berkelana kemana-mana mencari cinta, hanya saja tidak pernah cerita. Takut kuledeki kali ya?

Meskipun dia sudah menemukan calon jodoh pun, tak akan kuizinkan menikah cepat-cepat. Selain menunggu dia bekerja, dia harus kutraining dulu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik versi emaknya.

Mbak Marni, tetanggaku itu hanya tertawa.

“Mau ke mana to, Mbak? Kok rapi sekali,” tanyaku kemudian.

“Mau ke Borobudur, Mbak. Beli antimo dulu di warung Bu Kus.”

“Oalah, sama siapa Mbak?”

Lagi-lagi aku melirik putriku yang makin memasang muka cemberut  karena pembicaraanku dengan Mbak Marni makin panjang. Bahkan meleber tanya-tanya soal undangan nikahan dan khitanan di desa sebelah. Tak lupa kami berbagi keluh kesah kebingungan kami soal pengeluaran untuk menyumbang.

“Duluan, ya Bu.”

Akhirnya pembicaraan kami selesai. Kami melanjutkan langkah menuju penjual tahu di lantai dua pasar tradisional dekat rumah. Sudah kuduga, putriku cemberut kalau aku bertemu teman atau tetangga, lalu berbincang terlalu lama. Apalagi sambil berdiri di tengah jalan.

“Kebiasaan. Kalau ketemu orang di jalan tu ya udah disapa sekadarnya. Malah curhat,” gerutu anakku sambil menarik lenganku.

Ya bagaimana. Namanya juga emak-emak. Rasanya kok sombong sekali kalau ketemu tetangga hanya say hai lalu pergi. Duh.

“Berat, Nduk. Mak aja sini.”

Aku mengambil alih tas belanja yang dibawa anakku sambil berjalan miring-miring itu. Gimana nanti kalau bawa anak dan belanjaan sambil naik motor? Bawa beras 2 kilo, telur 1 kilo, dan minyak satu liter saja sudah sempoyongan.

“Nggak, Mak. Aku aja. Kuatlah, aku kan lebih gede dari Emak,” jawabnya.

“Bener? Tangan Mak gatel nih kalau nggak bawa apa-apa.”

“Mak, masa aku membiarkan emak bawa berat-berat sementara tanganku kosong? Bisa-bisa orang mengira aku durhaka, Mak.”

Aku cuma bisa pasrah. Yo wes, palahmen.

Aku memang sering meremehkan putriku. Termasuk soal pekerjaan rumah. Kalau menyapu kelamaan, langsung kuambil alih. Ngepel kurang bersih, aku pel ulang. Lalu kalau ada rendaman baju dibiarkan dan lama tidak dicuci-cuci, langsung aku cuci karena sumpek lihat pekerjaan rumah tak kunjung beres. Dia biasanya menggerutu, “Mak jangan curang lah, diambil alih semua!”

Aku sadar betul sebenarnya, hal tersebut membuat anak cewekku ini jadi tidak bisa belajar dengan baik. Emaknya terlalu perfeksionis begini. Omong-omong, aku tahu istilah perfeksionis juga dari putriku. Tidak usah dipikir artinya apa, intinya seperti yang aku lakukan ini, perfeksionis.

“Ke Borobudur tu dulu kita sama Bapak pernah kan, ya?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Iya, pas aku kelas tiga SD.”

“Masa? Bukannya udah SMP?”

“26 Juli 2004, Mak. Aku masih kelas tiga waktu itu,” jawabnya tandas. Tak bisa lagi kubantah.

Anakku ini memang diberikan kelebihan oleh Tuhan bisa hafal tanggal-tanggal dengan baik. Termasuk tanggal-tanggal di pelajaran sejarah. Bahkan dia hafal tanggal-tanggal kejadian penting yang kami alami. Apapun. Setidaknya, hari yang baginya penting, akan ia ingat seumur hidup tanggalnya. Lha wong dikit-dikit lapor padaku memperingati ini, memperingati itu. Haduh, pikiranku mana nyandak? Mending mikir daganganku.

“Oh, iya deh.” Aku mengalah.

“Beberapa bulan setelah itu, Desembernya tsunami di Aceh, Mak. Miris, ya? Takut banget waktu itu aku liat berita,” sambungnya. Syukurlah dia sudah tidak cemberut dan badmood denganku.

“Kalau tanggal-tanggal bencana alam di negeri kita ini, ngapain kamu inget-inget? Tinggal tanya simbah.” Mbah Google maksudku.

“Inget lah, Mak. Pas alam lagi marah sama kita, kita harus inget. Harus introspeksi diri juga, alam marah tu biasanya karena salah kita, Mak.”

Ah, meski masih takut-takut masang gas elpiji, putriku ini pinter juga. Ia tidak boleh seperti emaknya, cuma bisa dagang. Eh tapi dagang kalau nggak pinter ya ditipu juga! bantahku pada diriku sendiri.

“Trus kita harus gimana biar nggak dimarahin alam?”

“Harus go green, Mak. Besok-besok habis nyapu jangan dibuang lagi di kali deket rumah. Trus kalau belanja, kita tolak aja Mak kalau dikasih plastik atau kresek,” jawabnya penuh semangat.

Aku jadi sadar, dulu sering membuang sampah di kali dekat rumah. Biar ringkas, daripada nunggu truk pengangkut sampah datang. Kadang datangnya tidak rutin soalnya. Kan malas kalau lingkungan rumah bau sampah yang kepenuhan. Maafkan aku Ya Tuhan. Sudah tidak kuulangi lagi, kok.

Lha kalau beli minyak goreng masa ditaruh tupperware?” tanyaku polos-polos jahil.

“Ya nggak gitu juga, Mak!” Ia sebal dengan candaan garingku. Hahaha.

“Yo wes, ayo go green. Kalau tidur dimatiin to yaa lampunya.”

Aku sudah lama menyadari juga kalau putriku yang biasanya tidur gelap-gelapan, akhir-akhir ini tidur dengan lampu kamar dinyalakan. Kenapa sebenarnya?

“Aduh, biar nggak bangun kesiangan itu Mak. Mak kan udah baca resolusiku di tahun 2019 yang  kutempel di tembok kamar.”

Aku tersenyum simpul sambil membayangkan tulisannya di kertas besar-besar disertai ilustrasi hasil gambar tangannya sendiri. Salah satu resolusi anakku adalah bangun pagi tanpa kubangunkan. Lalu resolusi yang lain adalah soal cita-cita dan keinginannya. Aku tahu, dia sedang beraktualisasi diri dan punya cita-cita besar soal hal yang ia sukai. Sekadar informasi saja, anakku suka menggambar. Ya resolusinya semuanya berkaitan dengan itu.

Tidak terasa sebentar lagi kami sampai di penjual tahu langgananku. Anakku kalau pinternya keluar, ngobrol jadi tidak terasa. Meski sedikit-sedikit aku sambi senyum dan angguk-angguk ke siapapun yang kukenal dan berpapasan dengan kami.

Yo wes, jadi Emak ngurangi pakai plastik nih? Lha kalau kabel charger dibiarin nganggur tapi nancep di colokan tu go green nggak? Kalau nyuci piring boros air tu go green nggak? Trus mandi kelamaan buang-buang air di bak mandi tu go green juga nggak?”

Aku merasa bangga ketika putriku hanya ternganga mendengar sindiranku. Hmm. Emakmu tetap lebih pintar. Gen pintarmu kan dari emakmu, batinku narsis.

“Beli yang mana, Bu?” tanya si penjual tahu begitu kami sampai depan kiosnya.

Putriku masih memandangiku tak percaya.

“Mak, sekarang tanggal berapa?” tanyanya kemudian.

“Yang krompong lima ribu aja, Bu,” jawabku pada si penjual tahu.

“Tanggal 28 Januari 2019. Kenapa?”

“Resolusi baru, Mak. Resolusiku ternyata egois ya, Mak? Mikirin diri sendiri aja. Lupa mikirin alam.” Aku melihat mata putriku berbinar-binar.

“Tanggal penting, nih?” godaku sambil membayar tahu krompong yang dibungkus kertas itu.

“Iya, tanggal penting kalau emak ternyata pinter juga. Hehehe.”

Aku langsung menjitak kepalanya.

***

4 KOMENTAR