Pixabay.com

Pada derai tangis yang menetes dengan sendirinya, terimakasih.

Kau pernah sekali waktu, bahkan lebih bersembunyi di balik kerudung dari mata-mata yang menatapmu dengan iba. Terimakasih.

Masih pada derai air mata, terimakasih telah terjatuh di keheningan malam, tatkala semua orang tertidur lelap.
Kau harus terjatuh bukan sebab penyesalanmu pada noda-noda yang kau buat. Bukankah kau sendiri sudah menyerah untuk menangis karenanya.

Kau terjatuh, sebab rasa sambalado yang merasuki setiap sesak dadamu.

Kesulitan namun selalu ada jalan, itulah alasan sederhana kau menangis. Terimakasih.

Mbuh~

Yogyakarta. Rindu. 16 April 2019

4 KOMENTAR