Sumber gambar pixabay.com/likedok88

Awal tahun yang penuh dengan hujan. Air jatuh ke bumi tanpa henti tanpa ada pelangi. Mungkin di antara kalian menyukainya. Aku juga sama– iya. Tapi untuk sekarang ini berbeda. Hari-hari dihiasi dengan rasa was-was dan cemas.


Di pematang sawah,  ibu tanpa sengaja mengungkapkan perasaanya. “Nanti kalau sudah panen, uangnya bisa buat biaya nikah adikmu.” Senyumnya penuh dengan harapan. Hatinya senang dan bahagia.

Padi itu mulai besar dan beranak-pinak. Daunnya hijau, sehat dan terlihat segar. Andai aku kambing sudah pasti tidak akan mampu menahan. Langsung kumakan sampai kenyang. Untungnya aku bukan kambing. Hanya saja rasa riang tidak dapat aku sembuyikan. Semoga padi-padi itu menuai menghasilkan beras yang berkualitas bagus.

Kamu tahu bagi seorang anak laki-laki kebahagian itu terletak di senyum orang tuanya. Anak yang diandalkan dan digadang-gadang sebagai penerus keluarga. Hingga sore itu hari-hari hujan turun tanpa henti. Langit hitam tanpa tahu perginya matahari. Ibu terlihat mulai gelisah dan khawatir.

“Mat, gimana sawahnya?” ibuku bertanya dengan raut sedih.

“Yasudah Bu. Kalau begitu mamat ke sawah ya.”

“Hujan Mat. Sayang badanmu kalau sakit.”

Ibu mana yang tega melihat anaknya berkorban. Sedang anak mana yang betah menemani ibunya dalam kesedihan.

Aku pun bergegas naik sepeda tua warisan embah. Tidak lupa mengenakan jas hujan buatan sendiri dari kantong plastik besar. Aku kayuh pelan dan hati-hati. Tanah berbatu campur air hujan menjadikan jalanan licin. Bisa-bisa nanti jatuh dan terperosok ke sungai.

Putaran roda membawaku sampai jembatan–sungai irigasi desa. Di sana sudah banyak bapak-bapak memantau kenaikan debet air. Aku berhenti dan menyapa salah satu perangkat desa.

“Sore Pak,” sapaku.

“Iya, Sore Mat,” jawabnya dengan sedikit kaget.

Suara sahut-sahutan antara satu dengan yang lain mulai riuh terdengar. Rasa khawatir terlihat jelas di wajah mereka. Aku pun merasakan hal yang sama. Sehingga ku putuskan bergegas melihat kondisi sawah. Memastikan tidak ada hal-hal buruk yang terjadi.

Malam ini kilat dan suara sambaran petir serta gemricik air serasa konser dangdut pantura. Kami berbaring di kasur dengan mimpi buruk. Aku yang mencoba menenangkan diri dan pasrah pada Tuhan. Belum mampu menghadirkan kedamaian. Aku selalu kepikiran tentang ibu.

Subuh yang mengejutkan. Belum juga kami selesai berdoa. Sudah terdengar suara kentongan dari kepala desa. Itu tandanya kami harus kumpul dan mendengarkan arahan dari para perangkat.

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati. Mari kita sama-sama memanjatkan puja dan puji syukur kepada gusti. Lansung saja. Kami dapat kabar bahwa waduk Kedungombo. Sudah tidak mampu lagi menahan debet air. Sehingga dalam waktu dekat pintu air akan dibuka. Dari itu kami sarankan kepada warga untuk siap-siap. Barangkali air yang mengalir akan lebih banyak dari biasanya.”

Kabar buruk terlalu dini. Matahari saja belum menampakan diri. Sedang pelangi masih jauh di sana.

Kami pun kembali dengan langkah lesu. Harapan pudar dan hilang terendam genangan air. Banjir juga memenuhi hati dengan air mata. Hijaunya padi telah berubah menjadi lautan. Tenggelam berselimut air yang melimpah ruwah.

“Sudahlah Bu. Tidak usah dipikir,” kataku berusaha menenangkan.

“Iya Mat. Belum rejekinya,” jawab ibu tanpa pembelaan.

Peristiwa itu membuatku sadar. Saat ada kedzoliman yang dibiarkan. Akibat dan efek samping yang terjadi tanpa pandang bulu. Penggundulan hutan yang tidak pernah kami lakukan. Tanpa tahu kami harus merasakan dampak banjir.

Terimakasih penebangan kayu yang membuat hutan gundul. Terimakasih pembuang sampah sembarangan. Terimakasih kalian yang egosentris. Kami tabah menerima meski lewat bahasa doa.

6 KOMENTAR