Sumber gambar : pexels/lukas

Sebenarnya tiap orang pasti memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa tak kunjung menulis. Padahal dalam pikirannya sudah mempunyai banyak konsep atau ide luar biasa yang bahkan sudah matang untuk ditulisnya. Tapi tak jarang malah berakhir dengan kehilangan ide karena hanya sekadar disimpan di otak dan tak segera dikeluarkan menjadi karya tulisan.

Menulis itu gampang kok. Hanya saja kita sendiri yang membuatnya ribet. Kadang kita men-judge diri sendiri tidak bisa menulis, hingga otak kita pun termindset bahwa menulis itu sulit. Padahal tidak sesulit itu.

Nah, dibawa ini adalah hal-hal yang menyebabkan mengapa saya sendiri juga sering tidak mau menulis hingga akhirnya ide itu terbang bebas hilang begitu saja bersama udara dan masa lalu, loh. Siapa tahu kita sama atau hanya saya saja yang merasakan ini. Coba cek!

Tidak Langsung Bertindak

Iya benar, yang paling sering terjadi saat saya tidak juga menulis adalah tidak langsung bertindak. Ini yang paling sering terjadi. Dulu saya pernah men-judge diri saya tidak bisa menulis bebas dan konsentrasi dari notebook di smartpohone. Sedangkan biasanya saya menulis memakai laptop. Hingga terbiasa berpikir bahwa menulis di laptop lebih gampang, jadi membuat saya sering sekali kesulitan untuk memulai menulis dari smartphone. Padahal setelah suatu hari saya coba dan terus mencoba–walau pada awalnya memang sedikit sulit–akhirnya saya bisa menulis karya pertama lewat smartphone. Tidak disangka, mencoba berulang-ulang mengetik lalu dihapus, mengetik lagi, hapus lagi sampai bisa melanjutkan kepada paragraf berikut dan berikutnya. Hingga menjadi sebuah karya tulisan yang bisa dinikmati dan bermanfaat bagi pembaca.

Dan saya yakin, hal itu sangat bisa terjadi pada diri kamu. Apa? Yupshal yang terjadi pada diri saya, amat sangat bisa juga terjadi pada dirimu.

Tips : Bagi kamu yang kesulitan menulis dari smartphone, mulailah dulu. Lakukan seperti apa yang saya lakukan. Ambil smarphonemu, buka aplikasi microsoft word atau Notebook-mu, tuliskan apa yang ingin kau tulis. Dan mulailah dari hal-hal yang kamu sukai–ssstt hanya kamu dan Tuhan yang tahu prosesmu, tenanglah--Kau suka apa? ( jangan bilang aku, wahaha) Puisikah? Essay? cerpen atau sederhananya tutorial menggambar seperti yang dilakukan Jackfi dalam tulisan perdananya kemarin di Penakata. Mungkin saja dia jarang menulis (koreksi kalau salah), tapi ternyata sekali menulis, apa yang ia sampaikan malah sangat bermanfaat dan disukai banyak orang. Bahkan mungkin diam-diam ada yang mencobanya di rumah dan berhasil. Tapi sayangnya sampai sekarang beliau masih belum menulis lagi. Ada apa? Mungkin saja dia tidak langsung bertindak seperti kemarin saat akhirnya bisa menuliskan satu karya bermanfaat.

Semua memang butuh proses. Yang terpenting lakukan saja dulu. Kamu lapar kalau gak bertindak untuk memakan sesuatu yo siapa yang bakal buat perutmu kenyang? Itu kebutuhan hidup loh. Konon yang terkadang dianggap sepele seperti menulis? Butuh ekstra energi lebih dari memakan.

Udah deh. Ayolah ambil smartphone or laptopmu sekarang. Mulai ketik, seperti curhatan yang menjadi cerpenkah? Misalnya, “Aku sayang kamu tapi kamu sayang dia, eh ternyata dia sayang semuanya. HahaaLanjutkan!! Kamu bisa! Kamu bisa!

Khawatir Tulisan Kita tidak disukai

Okeh. Ketika kamu sudah mau bertindak untuk memulai menulis sesuatu. Setan malas menulismu pasti tak akan pernah kehabisan cara agar kamu tidak juga menulis. Apa itu? Ya salah satunya, kekhawatiran yang berlebih tentang tulisanmu sendiri. Kenapa? Kamu takut mereka tidak suka? Mereka menghina? Atau menjadikanmu bahan tertawaan karena tulisanmu. Atau kamu sempat berpikir tulisan dia lebih bagus ketimbang kamu kemudian membuatmu minder?
Wah wah wah. Saya juga sempat mengalami hal ini dulu sih, hehe. Bahkan amat sangat sering. Hingga berakhir dengan kegagalan produktivitas saya dalam hal menulis. Yang rugi? Ya saya sendiri. Hiks. Padahal jika kita menyadari, Allah telah menciptakan hambaNya dengan kemampuan yang berbeda-beda. Tidak ada yang bisa melakukan hal apapun yang sama persis. Kembar identik sekalipun. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti kita semua penulis yang dipertemukan di sini. Saya yakin Allah punya rencana atas semua ini. Kita dipertemukan di sini bukan untuk saling menyalahkan dan menghakimi. Tapi untuk saling melengkapi dan berbagi. Hai, yang belum kenal, kenalan dulu yuk. Hehe.

Tips : Mulai format ulang pikiranmu yang amburadul itu. Dan set kembali bahwa setiap tulisan memiliki manfaat dan ciri khas yang berbeda-beda. Kamu bisa memulainya dengan menulis hal yang kamu suka atau kuasai. Kamu suka memasak? Wah, saya ingin melihat bagaimana tutorialmu memasak. Atau kamu suka teater? Wah bagaimana sih dunia teater itu. Pengen tahu deh. Atau kamu mengerti informasi yang belum kami ketahui? Mungkin penjara bawah tanah atau ya minimal cara membuat kekasih semakin sayang dengan kita. Hahaha. Kamu tanya gih pada dirimu. Ayo, kami menunggu tulisan-tulisanmu. Ingat! Kami menunggu tulisan-tulisanmu.

Jarang Membaca

Sebenarnya adalah hal yang sangat fatal saat kita ingin menulis tapi jarang sekali membaca. Jangankan buku, baca artikel viral pun ogah. Main games mulu. Godain doi mulu. Kasih gitu kek waktumu untuk membaca. Membaca artikel-artikel yang no hoax ya? Atau membaca sesuatu yang kamu sukai. Alangkah lebih bagus membaca buku. Semakin kita banyak membaca apapun, semakin terdorong kuatlah untuk kita menulisnya. Semakin berseliweranlah ide-ide dalam kepala yang ingin segera ditelurkan menjadi karya tulis. Masalahnya kamu masih dalam zona berpikir dan terus berpikir gak? Kalau iya, silakan beralih. Pantengi layar laptop atau notebook-mu di smartphone. Ketiklah kata demi kata. Sebagai terapi. Ingat terkadang hal itu tidak berlangsung cukup dalam sekejab saja. Tapi butuh proses yang mungkin bisa jadi berhari-hari. Terpenting konsisten untuk berlatih tiap hari. Walau berawal hanya dengan menatapi garis kedap kedip itu di layar Ms.Word-mu saja. Pelan-pelan mulai gerakkan jari untuk menulis.

Kembali ke membaca. Seberapa sering kamu membaca? Entah itu membaca artikel di koran online. Atau bagusnya membaca buku yang penulis dan referensinya jelas. Biasanya akan sangat mempermudahmu mendapatkan topik tulisan setelah kamu membaca buku.

Tips : Misalnya kamu ingin menulis tentang manfaat buah dan sayuran. Boleh kamu lihat-lihat di website yang mengulas tentang itu atau mungkin buku yang mengulas tuntas seputar masalah itu. Nah, yang kamu harus lakukan adalah menulisnya kembali ke dalam tulisan versi bahasamu. Topik tulisan memang sama, tapi cara menceritakannya kembali yang dengan gaya bahasamu sendiri. Terserah. Cerpenkah, komedikah atau apa. Agar tidak dikatakan plagiat, kamu tidak boleh mengcopy paste tulisan itu. Dan alangkah baiknya kamu cantumkan sumber artikel atau buku yang menjadi inspirasimu. Ayo banyak membaca mulai dari sekarang! Saya yakin semakin banyak yang kita baca akan semakin kuat keinginan kita untuk berbagi ke dalam bentuk tulisan.

Katanya, saat kita membaca buku, pertanggungjawabannya adalah pada ilmu yang kita dapat itu sendiri. Bermanfaat atau malah hanya tersimpan di otak saja. Jangan pelit-pelit ilmu. Ilmumu akan hilang seiring berjalannya kepelitanmu itu. Duh.

Belum Paham Tujuanmu Menulis

Okeh. Untuk yang terakhir. Adalah pondasi paling dasar kita sebelum menulis. Yang pasti sangat memengaruhi produktifitas kita dalam menulis. Saya sendiri jujur kadang kehilangan tujuan menulis. Kadang lupa alasan dahulu saya menulis itu untuk apa? Hanya sekadar menghibur dirikah? Lantas setelah sudah terhibur, tak ingin lagi menulis? Atau hal yang paling mulia? Ingin bermanfaat bagi orang lain. Memantra-mantrai pembaca untuk menjadi lebih baik lagi melalu goresan-goresan kita.

Coba tentukan sekarang apa tujuan utama menulis? Jika belum ada, kamu harus tahu dan tetapkan. Tetapkan. Apakah untuk mencari uang? Mengasah kemampuan? Bagian dari merawat nalar seperti yang dikatakan bang Textratis? Tetapkanlah tujuan yang tidak merugikan diri dan orang lain. Tetapkan tujuan yang bisa memberimu manfaat dan semangat untuk mau menulis dan terus menulis.

Tips :  Pikirkan baik-baik sekarang juga. Untuk apa kamu menulis? Lalu carilah jika belum menetapkan. Kemudian jika sudah dapat, maka tetapkan dalam hati dan pikiran. Bila perlu ditempel tulisan gede-gede di dinding kamar. Agar ketika kamu sedang enggan menulis, tujuan yang kau tetapkan itu akan menjadi alarm alami yang akan selalu mengingatkanmu. Mengapa belum menulis? Seperti hal nya lapar, pasti perut dan otak akan merespon, seperti itulah saat menulis sudah menjadi bagian dari kehidupanmu. Ada gelisah yang harus segera dituntaskan.

Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan saat ini. Manusia adalah cermin bagi manusia lain. Terkadang kita bisa menasihati orang lain, tapi kita sendiri sulit untuk menasihati diri sendiri. Dan itu wajar karena kita adalah makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan makhluk yang lain. Termasuk dalam perkara nasihat menasihati.

Jadi mohon maaf jika banyak yang tidak sesuai. Tulisan ini tulus saya bagi untuk kalian semua para pembaca. Dan real dari pengalaman saya pribadi. Jika kamu punya jawaban sendiri, yuk diskusi dan saling menjalin hubungan berteman. Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah sayang pasti tulisannya ditunggu untuk segera tayang. Eeakk.

Selamat pagi

7 KOMENTAR

  1. Kayaknya aku ada di nomor pertama deh…
    Ngerasa banget… termasuk kesulitan nulis pake smartphone…
    Kamu tahu kan, kalau smartphone itu buat orang2 yang smart?
    Sedangkan aku nggak smart… 🤣🤣🤣
    Kalo nulis pake smartphone typo mulu… dah gitu disingkat2 berasa lagi chatting sama dirimu…