sumber: pixabay.com/RitaE

There is beauty in simplicity.

Ternyata benar, bahwa suasana hati dapat memengaruhi kita dalam melakukan sesuatu. Termasuk memasak. Yang ini pengaruh sekali. Tidak cuma di rasa, tapi juga pada tampilan fisik.

Hal ini kurasakan ketika membuat telur dadar. Kuulangi ya, telur dadar. Bukan telur ceplok mata sapi yang super duper susah itu untuk menggorengnya sesempurna mungkin sehingga bagian kuning tidak pecah dan pinggiran putih telur tidak berubah warna menjadi coklat.

Baiklah. Suasana hati memang bisa berubah tergantung apa saja. Jangan semua disangkutpautkan dengan seseorang, ya. Hal kecil dan remeh temeh seperti bersih-bersih kamar pun dapat memengaruhi suasana hati.

Well, ketikaΒ badan sedang tak sehat, aku akan membersihkan kamar. Karena hidup di daerah dataran tinggi, membuatku flu setiap pagi habis mandi. Cuma flu sebenarnya, bukan hal serius yang mengkhawatirkan. Tapi ditambah lagi, mukosa lubang hidungku menjadi lebih sensitif pada debu.

Entah ini apa. Yang jelas, hal ini terjadi padaku sudah bertahun-tahun lamanya, namun baru kusadari saat ini. Merantau di daerah dataran rendah yang panas, ah sebut saja Kota Semarang, membuat saluran pernapasan yang awalnya sensitif mulai kebal. Badan lebih sering berkeringat, lalu selama 4 tahun merantau, aku hanya 2 kali mengalami sakit, itu pun tidak berat. Both of them adalah diare yang paling hanya membuat lemas sehingga harus banyak beristirahat. Lalu tubuhku yang alergi debu mulai mereda. Kecuali kalau sedang menyapu atau bersih-bersih.

Badanku lebay juga rupanya. Kemayu. Sama debu saja anti. Ya bagaimana, aku pun semakin menyangkal akan hal ini, justru semakin menjadi-jadi.

Ketika kembali ke daerah pegunungan, badan meronta habis-habisan untuk menyesuaikan diri. Bayangkan, menyapu saja kalau tidak pakai masker, sebentar lagi aku flu, bahkan bisa sampai demam. Mandi jam 7 pagi dengan air dingin, langsung bersin tanpa henti.

Baiklah, kembali lagi ke membersihkan kamar. Setelah menyiksa diri menahan debu yang dengan alay-nya menggelitik hidung dan sistem imun ku, kamarku pun bersih. Ini bukan bersih-bersih biasa seperti halnya kita menyapu kamar sebelum tidur. Namun debu-debu, sarang laba-laba, juga kubersihkan di tiap sudut sampai kolong-kolong.

Sembuhlah aku dari demamku yang sempat membuatku berat untuk beranjak dari tempat tidur. Dan … Moodku betul-betul membaik saat itu. Aku pun memasak telur dadar.

Tiga butir telur kukocok dengan telaten dan menikmati, lalu kutuang lada garam, taburan gula, dan sedikit bawang putih. Semua porsi itu berbeda ketika aku sedang mood baik dan fokus, dengan ketika aku terburu-buru, mengantuk, atau sedang memikirkan hal lain. Pikiranku satu-satunya hanya, bagaimana caranya agar orang yang menikmati telur ini ikut bahagia nantinya.

Hal lain, seperti tikus di dapur yang tetiba lari melintasiku pun sama sekali tak mengganggu fokusku. Padahal sudah tengah malam. Seisi rumah sudah pada tidur.

Percaya atau tidak, moodku juga memengaruhi bentukan telur yang habis dikocok. Telur terkoagulasi dengan bagus. Kemudian kupanaskan sedikit minyak ke teflon sembari menunggunya panas dengan api kecil. Kata Budhe, “Tunggu minyaknya tua dulu kalau goreng sesuatu.”

Meski agak kurang paham dengan bahasa zaman old, tapi aku tahu, maksud minyaknya tua adalah tidak lagi muda. Eh maksudku sudah benar-benar mendidih dan siap untuk menggoreng. Hal ini akan memengaruhi penyerapannya dalam makanan, dan juga kecepatan matang, serta bagus tidaknya makanan mengalami browning akibat penggorengan.

Setelah merasakan dengan feeling bahwa minyak telah tua, kutuang telur yang sudah kukocok ke dalam wajan. Pelan, hingga menciptakan bunyi, “Srengggg …” dan terbentuklah bulatan yang nyaris sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Tunggu. Membalik telur pun tidak boleh terburu-buru. Seperti halnya membuat pancake, adonan baru dapat dibalik jika sudah menciptakan gelembung-gelembung atau pori. Menandakan bahwa bagian bawah sudah mulai matang, seluruh bagiannya menyatu.

Lalu … Set. Telur pun kubalik dengan spatula datar. Perfecto! Telur membentuk bulatan sempurna tanpa tercecer setetes pun ketika dibalik.

Kuncinya adalah sabar. Jangan menggoreng sambil melakukan hal lain seperti membalas chat. Serius deh. Bisa-bisa, kalau tidak gosong, pikiran kita akan sedikit teralih, sehingga luput untuk memperhatikan kapan si telur akan matang.

Yak … aroma telur digoreng memang sedap. Menyeruak hingga hidung yang agaknya sedikit mampet karena pilek.

Telur dadarku sudah jadi. Waktunya makan. Eit jangan salah, tiga butir bukan kumakan sendiri kok, kusisakan separuh untuk siapapun nanti, atau bisa jadi untukku sendiri ketika pagi tiba.

Percaya deh, ketika mood baik, maka hal-hal yang akan kita lakukan setelah itu pun ikut membaik. Sesederhana telur dadar pun, ia bisa tahu isi hati kita.

Kalau memang mood sedang hancur karena suatu hal, maka tersenyumlah. Everything will be better.

Jangan cemberut dulu dengan tulisan tidak jelas ini. Senyum yuk.

Baiklah, karena perutku sudah keroncongan, selamat menikmati telur dadar di tengah malam.

8 KOMENTAR