Sumber gambar pixabay.com/congerdesign

Apa yang tidak aku ingat tentang kamu? Semuanya masih tersimpan jelas dalam pikiranku. Kota inilah sebagai saksi pertemuan kita. Tepat di saat yang tidak bersahabat. Waktu yang tidak memberikan kesempatan lebih untuk mengutarakan. Bahkan nomer telephone saja aku dapat dari sahabatmu. Tapi itulah kenangan pertama kali kita berjumpa. Kamu tahu? Semua itu masih melekat sampai saat ini.

Ada kopi yang selalu menjadi saksi percakapan dan pertengkaran. Komunikasi yang bernada cemburu. Juga rasa sakit oleh kesibukan. Semua kita selesaikan dalam satu meja. Tempat yang selalu bisa kau tebak. Saat aku gundah ataupun sedih. Tidak jarang kamu datang mendadak tanpa permisi. Masihkah kamu ingat tempat-tempat ini, Dinda?

Kafe Encycoffeedia
Sumber gambar @encycoffeedia

Aku selalu tenang saat melihat lampu-lampu kota Semarang. Cakrawala yang luas membuatku bukanlah satu-satunya orang yang merana. Belum lagi kopi hitam specialty tubruk kesuakaanku. Semua begitu memberikan energi untuk bangkit dari keterpurukan. Lalu tiba-tiba kamu datang dan mengucapkan maaf. Malam yang indah. Semua kembali sebagaimana cinta itu muncul pertama kali.

Ayam Bakar Madu Bu Mami
Sumber gambar faktualnews.co

Meski aku tidak begitu rela kamu ajak makan ke ayam bakar madu. Namun demi menyatukan dan menghapus masa lalumu dengan seseorang. Aku merelakan itu semuanya untuk kamu. Ayamnya memang enak sambelnya juga sedap. Tapi toping kenangan dengan mantan membuatku tidak terima. Ada rasa cemburu bercampur bumbu-bumbu yang kutelan bersama sepuluk nasi.

Pantai Marina Semarang
Instagrama/ @Priyankurnia

Secara jujur aku bukanlah penyuka pantai. Namun pintarnya caramu mengajak dan merayu. Membuat luluh dan tidak bisa menolak. Inginmu menikmati senja di pinggir pantai sambil makan bakso. Sialnya aku tergoda dengan khayalanmu. Tanpa mikir panjang kupacu motor buntut sambil mencari penjual bakso. Kita bungkus dua porsi bakso kosongan dengan sedikit kuah. Senja yang indah dan bakso yang romantis. Tidak lupa kamu ucapkan “terima kasih, Kanda.”

Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat lain yang belum aku tulis. Tapi itulah cinta harus ditata agar tidak cepat habis. Besok aku akan ceritakan lagi tentang tempat kopi dan juga tempat makan lainnya. Tidak lupa tempat main yang menjadi saksi cinta kita, Dinda.

Aku juga tidak tahu sebenar-benarnya alasanmu menerimaku. Di antara banyak pilihan dan laki-laki yang mendekatimu. Aku sendiri kurang percaya diri. Bahkan tidak menyangka akan bisa bersamamu. Kalau mencintaimu adalah candu aku tidak akan mau. Karena bagiku mencintaimu itu hukum.

17 KOMENTAR