Sumber gambar: pixabay.com/noeminihoul

Sejauh ini ia terpental dari putaran bus antarkota antarpropinsi sampai di barat pulau Jawa. Kota adem, ramai, macet, tapi manis– semanis senyum-senyum pagi perawan SMA. Ya itulah yang ia rasakan untuk pertama kalinya naik bus sampai ke kota Kembang. Lebih jelasnya macet membuatnya terlambat satu jam, hujan yang dingin membuatnya lapar, ketepatan hari minggu yang sudah biasanya lebih ramai dari hari-hari lainnya.

Mungkin ia berpikir inilah kota yang dicampakkan Tuhan– yang mana membuat manusia lupa akan surga-Nya. Ia pikir Tuhan akan cemburu dan melupakan kota ini sebagai ciptaan-Nya. Sehingga ia bisa mengubur dalam-dalam kenangannya tanpa ada siapa pun yang tahu. Tidak juga Tuhan apalagi manusia-manusia lemah itu. Ia juga berharap bisa tersenyum kembali dari kegelapan yang tidak bertepi.

Hujan itu tidak kunjung reda, terminal menjadi pijakan kaki pertama kali. Lapar, dingin, capek, juga bokong yang tepos karena hampir tujuh jam duduk di bangku belakang yang rawan dengan hantaman roda dari jalanan yang tidak rata. Ketiduran di bahu bapak tua juga menjadi romantikanya dalam bus antarkota. Ah, bukan romantika tapi kesialan yang hakiki. Namun, hal ini mengajarkannya tentang demokrasi– saling punya kepentingan, tetapi tetap sabar untuk sampai tujuan masing-masing. Kalau mau oposisi silakan turun di tengah perjalanan tapi jangan minta uang kembali. Pikirnya.

Wajar saja itu terlintas dalam pikirannya, kesendirian memaksanya harus merubah kesebalan menjadi notah-notah kebaikan. Siapa tahu dari situlah kebahagiaan akan datang dan membuatnya dapat tersenyum lagi. Ia juga sadar ini tidak semudah yang dibayangkan. Ini seperti anak-anak yang diajari untuk mengenal huruf dan angka. Butuh upaya yang luar biasa untuk membuatnya memahami dan mengerti. Namun, pada saatnya nanti ia dapat merangkai ceritanya sendiri.

Terminal dan malam hari mana mungkin bisa membuatnya tenang,  belum lagi hujan yang tidak kunjung reda. Ia pun berlari menuju tempat teduh sembari berpikir ke mana ia akan bermukim. Terminal bukanlah tempat yang aman untuknya, tanpa teman, sendirian semakin memperlebar kesempatan tindak kejahatan. Badannya juga ingin sekali cepat-cepat terjun di atas kasur. Dengan terburu-buru mencari lewat aplikasi, ia pun terjebak di Buah Batu. Bukan karena keinginan tapi karena keuangan yang memaksa.

Sejauh ini bukanlah tanpa alasan, kepergian ini, kesendirian ini, adalah ia yang ingin melupakan adanya pengorbanan. Sekarang akan menjadi masa lalu dan cinta akan tetap ada di dalam hati, tetapi luka haruslah ditinggal. Benarkah ini tempat yang tepat untuk memendam? Jangan-jangan ini bukanlah tempat yang ia cari– tempat yang dicampakkan oleh Tuhan. Lalu?

2 KOMENTAR