Ini hanya sebuah catatan. Tentang beberapa hal mendasar yang tidak bisa kulupakan, kenapa aku bisa masuk ke dunia literasi sampai sekarang. Meski sebenarnya, sekarang pun aku bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan mereka-mereka. Namun, ada beban, beban yang setiap waktu menusuk dadaku. Dia menikam kapan saja dia mau, dan aku selalu tidak mampu mengabaikan rasa sakitnya.

Dulu pertama kali aku memutuskan untuk menulis hanya karena ingin menyuarakan satu, dua hal yang kulihat. Berupa tulisan nonfiksi, sampai akhirnya ada seseorang yang mendorongku untuk menulis fiksi, berupa novel. Karena satu orang ini tahu, aku punya beberapa tulisan tangan yang kubuat saat masih duduk di bangku sekolah.

Singkat cerita, aku yang belum tahu apa-apa hanya bermodal nekat dan mencoba berkenalan dengan beberapa penulis yang sudah cukup femes. Dari sana, aku berkesempatan kenal seseorang yang sedikit banyak membantuku dalam hal kepenulisan dasar. Tentang tanda baca dan lain-lain. Aku mencoba mengakrabkan diri dengannya, untuk belajar lebih jauh dan mengetahui seluk beluk dunia literasi lebih banyak. Sampai pada akhirnya, aku merasa tertolak. Ya, aku merasa tertolak.

Satu ketika yang kusebut ‘dia’ ini menulis dalam unggahan statusnya, “Siapapun di luar sana. Jangan bersikap seolah Anda mengenal saya dengan baik kalau Anda tidak kenal siapa saya.” Tulisan ini dalam versi bahasa Inggris. Mulai saat itu, aku tidak lagi berkomentar di postingannya, sesekali membaca ceritanya saja, tapi tetap membeli kalau dia buka PO. Dalam diam dan perasaan terpukul, aku benar-benar mundur karena tahu diri.

Aku memang bukan siapa-siapa dibandingkan dengannya, atau dia mungkin tidak ingin aku numpang tenar padanya. Karena dengan terlihat akrab, tentu orang-orang yang mengaguminya akan bertanya dan ingin tahu siapa aku. Dari sana, aku benar-benar mengambil sikap. Aku tidak akan mengganggunya lagi, cukup aku kagum dengan karyanya saja.

Di malam membaca tulisannya itu, aku menangis. Menangis karena apa yang kulakukan, dengan terkadang bertanya sesuatu, memperhatikannya, memberi dukungan lewat pesan pribadi. Semua itu hanya karena aku menganggapnya saudara. Tidak ada niatan sama sekali untuk mengusik, apalagi numpang nama. Demi Tuhan yang tahu isi hati manusia, aku yakin Dia tidak akan salah membaca isi hatiku.

Aku yang masih ingin banyak tahu, memutuskan masuk dalam beberapa komunitas. Di sana, bertemu dengan banyak teman yang baik, salah satu dan duanya mengajarkanku banyak hal. Memperkenalkan apa yang belum kuketahui dan dia tidak pernah menganggapku numpang tenar. Namun, aku tidak menampakan keakraban kami di luar, sebab aku tidak mau hal yang sama terulang lagi.

Dalam hati kecil, aku sangat bersyukur dengan anugerah dari Sang Pencipta, di mana aku bisa cepat menangkap hal baru. Tidak pernah lupa dengan hal-hal kecil yang kubaca dan kulihat. Bahkan dari setiap detilnya. Dalam waktu singkat, aku mulai banyak teman. Ada satu orang teman yang berasal dari Kalimantan, aku memberikan banyak masukan padanya. Dan aku tidak pernah meminta dia menyiarkan ke luar sana tentang jasaku terhadap karyanya. Sampai banyak yang ingin berteman denganku sebab desas-desus yang teman ini tadi ceritakan tentangku. Dia menyebut namaku di beberapa kesempatan, bahwa aku yang menuntunnya.

Apakah aku bangga? Tidak. Justru aku malu sebab merasa belum pantas. Sampai akhirnya beberapa temanku terus mendorong bahwa aku memang pantas dan layak. Tanpa melihat status, latar belakang atau apapun, murni hanya dari karya. Sampai pada akhirnya, aku mau memberikan satu atau dua ilmu dasar yang kuketahui. Melimpahkan sedikit ilmu yang kupunya pada teman yang bertanya. Aku tidak pernah berpikir akan merasa tersaingi. Tidak pernah.

Lalu ada beberapa tawaran masuk, mereka meminta jasaku untuk bergabung dengan dunia mereka. Aku menerimanya. Tidak ada orang yang tahu tentang ini. Hanya satu, dua orang saja, itupun tidak kusebutkan di mana aku bernaung. Dan tidak akan tercantum namaku di manapun, biarlah aku menikmati pekerjaan ini bebas dari tuntutan. Karena aku masih khawatir akan banyak orang yang melemparkan kembali tiap kesalahan-kesalahan yang mungkin saja terjadi. Mencibir dan mengolok kalau memang aku membuat kesalahan.

Aku menerima tawaran pekerjaan itu bukan karena uang, tapi semata-mata ingin belajar dan banyak tahu lagi. Di saat yang sama, aku merambah banyak platform termasuk awal berkenalan dengan beberapa orang yang kukenal di sini; kalian.

Diri ini, mencoba aktif di berbagai media sosial di tengah hiruk kehidupan nyata yang menyita waktu. Semua demi teman-teman dari berbagai kalangan dan latar belakang yang ingin kusentuh satu persatu. Karena aku menyayangi semua orang, mereka dan kalian. Beginilah aku apa adanya, dan di manapun. Mungkin jika ada yang berpikir, aku ini orangnya sok akrab. Iya memang, aku memang begini. Bukan dengan niat apa-apa, murni karena aku suka punya banyak teman.

Semua baik-baik saja, sampai satu ketika dia yang di awal pertama kuceritakan. Orang yang kehidupannya hampir tidak pernah kelirik lagi. Dia menulis sesuatu, mungkin itu tidak ditujukan padaku. Mungkin memang merujuk ke orang lain. Tetapi di sana jelas ada tendensi pada subyek tertentu, “Dulu pernah mengajari seseorang dari awal menulis. Sampai sekarang dia merasa dan bergaya layaknya pro’. Berlagak tahu segala hal. Apa susahnya bilang kalau dia dapet ilmu itu dari siapa. Mungkin dia berpikir, dengan begitu dia akan kelihatan keren. Tapi sebagai seseorang yang pernah mengajarinya, yang di sini merasa malu.”

Hatiku berantakan sudah. Dia, orang yang menulis kalimat itu, tidak pernah tahu dengan siapa aku berteman. Kami tidak pernah lagi bertanya kabar. Dia hanya melihat interaksiku di sosial media, tanpa tahu dengan siapa aku bicara dan berteman dalam perjalanan ini. Dia tidak pernah tahu.

Dulu dia sendiri yang bersikap, aku tidak layak berteman dengannya. Tidak berkenan dunia tahu, bahwa kami saling kenal. Dia yang memasang tameng agar orang lain tidak mendekat, termasuk aku. Lalu kenapa tiba-tiba dia bersikap ingin diakui sebagai orang yang berjasa? Bukan aku tidak menghargai jasa dan memberi respek untuknya, tapi apa yang dia perkenalkan padaku hanya hal-hal dasar. Hal-hal dasar yang banyak diajarkan di buku-buku panduan. Hanya itu.

Sedang, aku menyelam sana-sini mencari jati diri dan berusaha menggapai cita dengan caraku sendiri setelah aku mundur dunianya. Aku terus berusaha meyakinkan diri, kalau kalimat itu bukan ditujukan untukku. Tapi tetap saja terpikir, untuk siapa kalimat itu? Untuk siapa kalau bukan aku?

Sekarang aku ingin bertanya, wajar bukan jika kamu dan kenalanmu punya hobi yang sama? Lalu mengidolakan artis yang sama, menyukai jenis musik yang sama? Aku sangat senang ketika bertemu dengan teman seperti itu. Tapi dia tidak, dia beranggapan aku hanya menirunya. Meniru apa-apa yang dia suka dan aku menceritakan banyak hal yang bersumber darinya. Ya Tuhan, kadang aku berpikir sebegitu rendahnyakah aku di matanya? Sebegitu bodohnyakah aku baginya? Sedang apa-apa yang dia ceritakan juga banyak dibicarakan di luar sana, itu pengetahuan umum. Selain aku banyak juga yang tahu dan membicarakannya.

Ketika dia bercerita dan aku hanya diam, dianggap aku ini tidak tahu. Tapi ketika aku bilang aku tahu dan juga menyukai hal yang sama. Dia akan berpikir aku menirunya, menyama-nyamainya. I don’t understand, why?

Why he don’t likes me too much?

Sampai sekarang aku pun tidak paham dan tidak tahu alasannya. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa tidak sukanya itu mulai terang-terangan ditunjukkan. Aku tidak masalah, toh masih banyak yang sayang dan mau berteman denganku. Bahkan aku tahu, ada satu atau dua orang yang selalu mengawasi apa yang kulakukan, melaporkan apa-apa padanya. Aku tidak sedang berprasangka, karena aku benar-benar tahu. Aku tidak lagi ingin menjadikan ini beban. Jadi kutulis saja.

Sialnya lagi, aku menyukai apa-apa yang dia suka. Tanpa aku tahu sebelumnya. Hanya saja terkadang, ketika ingin mengunggah tentang sesuatu yang kusuka, aku berpikir ulang. Khawatir pada diri sendiri, kalau-kalau dia menyindirku hati ini tertusuk lagi. Menyindir bahwa aku mengikuti kesukaannya. Padahal itu hanyalah kebetulan. Sudah lama aku berhenti membuka story-nya, membaca tulisannya. Bukan aku marah, bukan aku dendam. Hanya saja, aku takut kalau banyak berinteraksi, dia akan berprasangka buruk padaku.

Aku sudah cukup bahagia sekarang, memiliki teman seperjalanan yang begitu banyak. Tidak bisa kusebutkan satu persatu. Mereka-mereka yang tidak pernah berhenti mendampingi dan memberi dukungan.

Hanya saja, aku selalu tertusuk dengan pertanyaan yang sama. Kenapa ada yang sangat-sangat tidak menyukaiku, bahkan setelah aku keluar dari zonanya? Padahal aku sudah tidak ingin lagi dianggap benalu olehnya. Aku sudah cukup nyaman dengan duniaku sendiri tanpa mengusiknya. Entahlah, aku tidak sanggup memikirkannya.

Mungkin jika satu saat nanti dia menemukan tulisan ini. Biarlah dia membacanya. Biarkan saja. Aku hanya ingin mengurai beban pertanyaan yang tidak pernah kutemui jawabannya. Harusnya dia sadar, “ Jika dia meminta orang lain berhenti sok kenal dan sok tahu tentangnya. Dia harus melakukan hal yang sama untuk orang lain. Berhentilah sok tahu dan sok kenal.”

“Jangan mengusik, kalau tidak ingin diusik. Kalau tidak suka, benci, atau merasa malu pada apa yang kulakukan. Cukup mundur saja. Seperti aku memutuskan untuk mundur.”

Teruntuk kamu ….

“Kamu tidak ingin aku berjalan di dekatmu bukan. Jadi biarkan kucari jalanku sendiri. Kamu dengan jalanmu sendiri. Karena tanpa kamu tahu, di sepertiga malam ada nama-nama kusebut agar Tuhan memberikan kesehatan pada mereka. Mereka yang pernah kuanggap saudara dan orang-orang yang kuanggap berjasa, mungkin di sana terselip namamu tanpa kusadari. Dan maaf, aku tidak pernah bermaksud dan memiliki maksud seperti apa yang kamu sangkakan.”

Jika ditanya apa aku benci? Jawabannya tidak. Aku hanya tidak suka dianggap buruk, ada perasaan kecewa di sana. Dianggap buruk oleh orang yang belum mengenal, itu sakit. Apalagi kalau yang beranggapan adalah orang yang tidak tahu menahu tentang diri ini dan langsung menjatuhkan penghakiman.

Ada beberapa tetes di sudut yang mendesak dan mengalir saat tulisan ini dibuat.

Bumi Samin
26 September 2019