sumber: pixabay.com/dn2001cn0

Pada gambar desain Bang Dina yang berjudul The Experiment, terlihat 2 ekor kucing yang mentato seluruh tubuhnya. Sementara kucing tersebut berbadan selayaknya manusia. Memakai pakaian, bergandengan tangan, bahkan dapat berpose.

Kita tahu bahwa kucing tersebut termasuk kucing berjenis Sphynx, yang memiliki bulu sangat pendek dan sedikit. Maka, mudah untuk mentato tubuhnya daripada mentato tubuh kucing berjenis lain yang berbulu lebat, apa gunanya? Tak akan terlihat.

Sebagaimana manusia yang harusnya memanusiakan sesama, malah terbalik memanusiakan hewan. Sementara sesama manusia malah dihewankan. Sikap ini jadi keliru karena tidak pada tempatnya.

Hewan seringkali dijadikan bahan eksperimen berbahaya. Misalnya saja dalam bidang kedokteran. Hewan seperti tikus, mencit, bahkan bisa jadi kelinci atau monyet dijadikan percobaan demi suatu hal yang akan bermanfaat bagi manusia nantinya. Itulah mengapa, ada regulasi khusus mengenai itu. Penelitian kedokteran membutuhkan ethical clearance yang berisi prosedur yang tepat dalam memperlakukan subjek percobaan.

Itu baru hewan. Percobaan yang dilakukan pada manusia, tentu lebih ketat lagi regulasinya. Perlu izin pula dengan si pelaku yang akan diminta membantu eksperimen. Apalagi kalau percobaan tersebut berkaitan dengan nyawa.

Kadang, eksperimen menjadi begitu menyeramkan jika dilakukan dengan sia-sia. Sia-sia, lho. Bukan gagal. Namanya juga uji coba, wajar jika gagal. Namun yang tak termaafkan adalah apabila si objek eksperimen tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Ini jahat sekali.

Tidak perlu jauh-jauh. Diri kita pun selalu menjadi objek eksperimen diri kita sendiri tanpa kita sadari. Itu jelas tidak merugikan karena kita melakukannya sesuai kemauan. Seperti misalnya, eksperimen diri untuk lari keliling lapangan setiap hari untuk melihat apakah tubuh kita setelah itu menjadi bugar atau tidak.

Yang kejam adalah eksperimen yang sadis dan tak bertanggung jawab. Apalagi kok ilegal dan Β tidak mematuhi regulasi. Sebagai contoh, eksperimen Project 4.1 untuk melihat efek radioaktif di Marshall Island, Amerika Serikat. Percobaan ini bahkan berlangsung beberapa dekade. Efeknya, banyak bayi yang meninggal, mengalami gagal pertumbuhan, dan menderita kanker yang membahayakan.

Selain itu, ada pula Project MKULTRA yaitu penelitian pengendalian pikiran oleh CIA tahun 1950 – 1960. Berbagai narkoba dan obat-obatan digunakan untuk memanipulasi pikiran serta mental manusia. Dan parahnya, perekrutan subjek untuk percobaan ini ilegal, tanpa sepengetahuan mereka.

Lalu di Jepang, tahun 1937 – 1945 ada eksperimen bernama Unit 731. Eksperimen ini dilakukan pada manusia, tapi sungguh tidak berperikemanusiaan. Menggugurkan janin, mengamputasi tulang rusuk tahanan,Β  hingga percobaan menggunakan granat pada tubuh manusia. Bahkan ada juga eksperimen memasukkan racun pada tubuh manusia, namun disamarkan sebagai vaksin. Kejam sekali.

Kita patut berterima kasih pada mereka-mereka yang gugur menjadi percobaan eksperimen. Entah manusia maupun hewan bahkan tumbuhan. Berkat mereka, di masa ini, bidang medis dan pengobatan semakin berkembang hebat.

Perkembangan teknologi dan pengetahuan memang penting, namun berperikemanusiaan pada manusia, berperikehewanan pada hewan, dan berperiketumbuhan pada tumbuhan agaknya lebih penting dalam melakukan eksperimen.

Ah sudahlah. Ini hanya opini dangkal. Bukan berarti kita jadi takut untuk bereksperimen. Cuma perlu do it wisely. Karena kita punya hati nurani.

Referensi: 1

9 KOMENTAR