sumber: dok. pribadi

Hai goodwriters.

Hujan masih mengguyur bumi Temanggung. Menyisakan udara dingin yang lembab. Bau tanah basah sudah tidak asing lagi. Bagi seorang penyuka petrichor (aroma alami tanah basah), pasti hal ini menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati berhari-hari di musim hujan.

Ah, tubuhku sedang lelah untuk melakukan aktivitas. Seharian aku hanya menggenjreng gitar dengan ngawur sambil memainkan lagu Shallow – Lady Gaga feat Bradley Cooper. Ya, setidaknya petikan dan genjrengan ngawurku ini hanya enak untuk kudengarkan sendiri. Karena Emak sudah berteriak sumpek, “Esukesuk gitaran!”

Ah baiklah, sembari memainkan lagu Shallow, kuberikan secangkir teh panas untukmu. Yaaa, anggap saja permainan gitarku ini sudah jago bin profesional. Meskipun sebenarnya jariku keseleo memainkannya. Fals pula.

Tell me somethin’ girl

Are you happy in this modern world?

Or do you need more?

Is there somethin’ else you searching for?

Ini soal pengalaman perjalanan di kali pertamaku interview melamar pekerjaan. Ya, mungkin bagi teman-teman yang sudah sering mengalami, ini hanyalah pengalaman kaleng-kaleng. Tapi ya sudahlah, kaleng-kaleng bagimu belum tentu kaleng-kaleng bagiku.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya, pekerjaan semacam apa yang aku inginkan? Setidaknya, yang akan membuatku senang dan tak ‘kan pernah bosan melakukannya?

Tapi berkat dukungan orang tua dan teman-teman terdekat, aku nekat naik bus ke Semarang untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) yang masih hot from the oven. Baru jadi, langsung kuambil. Ya bagaimana, membuat STR saja lamanya berbulan-bulan. Sementara tanpa surat tersebut, aku tidak bisa melamar kerja ke tempat yang kuinginkan.

Bahkan aku sudah lelah menjawab pertanyaan orang-orang, “Kenapa belum lamar kerja?”

Tiga hari di Semarang untuk mengurus ini itu selesai sudah. Hingga Jumat pagi aku mendapat telepon dari rumah sakit tempat aku melamar kerja. “Mbak, bisa interview besok Sabtu jam sepuluh?”

Baiklah, detik itu juga aku langsung bergegas mandi, sarapan, lalu pulang ke Temanggung. Tak lupa berpamitan dengan teman yang sering kurepotkan karena kutumpangi untuk menginap ketika di Semarang.

Sore hari aku baru sampai Temanggung. Di rumah hanya tepar dan gelisah. Hingga Sabtu pagi tiba, subuh-subuh aku sudah naik bus ke Jogja. Tentu saja aku sendiri. Bus yang kutumpangi adalah bus pertama yang berangkat. Di jalanan yang masih gelap dan sepi, lampu dalam bus yang remang-remang membuatku terlelap sepanjang jalan. Padahal rencanaku mau belajar. Karena selain  interview, juga ada tes tertulis. Namun, keinginan untuk tidur lebih baik kurututi.

Pukul 07.30 aku sudah sampai Terminal Jombor. Setelah menumpang ke toilet terminal dan duduk sejenak untuk minum air mineral, aku pun memesan ojek online untuk mengantarku ke tempat tujuan. Ya, menunggu ojek online rupanya tidak boleh tepat di area terminal. Sudah dipasang larangan, “Taksi Online dan Ojek Online Dilarang Menaikkan Penumpang di Area Terminal Jombor”.

Ya, rasanya sedikit tidak enak ketika aku dijemput ojek online padahal sekitarku banyak ojek offline. Berjaket seragam pula dengan tulisan “Ojek Jombor”. Daripada diamuk tukang ojek offline, aku lalu menyingkir ke area agak jauh dari terminal. Lalu mulai memesan ojek online ke tempat tujuan.

Hmm … sedikit banyak, ojek online memang sudah menyaingi ojek offline. Meski kupikir tarifnya hampir sama, namun aku lebih memilih menumpang ojek online karena tarifnya lebih objektif dan sudah diatur berdasarkan jarak tempuh. Selain itu, ojek online lebih fleksibel untuk order dari mana pun kita berada.

Pukul 08.30 aku sudah sampai di tempat tujuan. Menunggu jam 10  tiba dengan duduk di warung dan minum es jeruk. Kalau lagi nervous begini meski perut lapar juga tidak terasa. Karena saraf simpatik tubuh kita merespon stress sementara saraf parasimpatik menanggapi rangsangan dengan menurunkan kerja organ pencernaan sehingga mengkamuflase rasa lapar.

Pukul 10 lebih aku baru diantar Pak Satpam menuju HRD untuk interview. Syukurlah, aku tak peduli interview-ku terlihat bagus dan profesional atau tidak, namun setidaknya aku merasa lega karena tidak memalukan diri sendiri. Tes tertulis juga sebagian besar berhasil kukerjakan. Meski entah banyak betulnya atau justru salahnya.

Pukul 12.30, aku sudah keluar dari rumah sakit dan menghampiri warung terdekat untuk membeli soto. Ya, ketika stress mereda, rasa lapar menyeruak. Baru kusadari bahwa tubuhku memerlukan glukosa. Aku membeli soto dan es teh.

Selesai makan, agaknya tubuhku masih jetlag untuk langsung pulang naik bus. Mau main juga sudah lelah, mau mengabari teman-teman yang di Jogja kok takut mengganggu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertemu seseorang yang juga waktu itu menghubungiku. Seseorang dari masa lalu. Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kampus UGM.

Hmm … ceritaku mulai membosankan. Minum dulu tehnya, sembari kulanjutkan lagu yang baru sebait itu.

I’m falling

In all the good times I find myself

Longin’ for change

And in the bad times I fear myself

Tell me something, boy

Aren’t you tired tryin’ to fill that void?

Or do you need more?

Ain’t it hard keeping it so hardcore?

I’m falling

In all the good times I find myself

Longing for change

And in the bad times I fear myself

Bertemu seseorang dari masa lalu agaknya cukup menakutkan. Hal itu akan memunculkan memori dan kenangan-kenangan lama yang kutakutkan akan memunculkan perasaan-perasaan yang tidak enak. Ah namun, bukankah menjaga pertemanan dan persaudaraan lebih penting? Toh kami saling sapa dan berniat untuk belajar satu sama lain.

Pukul 16.30, aku pulang ke Terminal Jombor. Mengejar supaya tidak kehabisan bus. Dan benar, bus yang kutumpangi adalah bus terakhir menuju Magelang. Namanya bus terakhir,  di jam-jam pulang kerja, dan di malam Minggu, jelas saja penuh. Untung saja jetlag-ku sudah hilang untuk berdiri sepanjang jalan sampai Magelang.

Atmosfer dalam bus ekonomi agaknya cukup membuat sesak. Bus yang penuh sesak menyebabkan suplai oksigen untuk maisng-masing orang menjadi lebih sedikit. Ditambah lagi bau keringat dan aroma ketek yang sarat kelelahan menusuk hidungku.

Kukeluarkan senjata pamungkas ketika berkendara. Antisipasi supaya tidak muntah atau bahkan pingsan – FYI saja, aku pernah pingsan dalam bus yang sesak begini. Senjataku adalah minyak telon. Kuhirup aromanya dalam-dalam. Aku yakin, orang-orang di sekitarku turut merasakan lega dengan harum minyak telon itu. Seperti sedang menciumi adik bayi.

Sepanjang jalan yang agak memadat, aku hanya memandangi satu persatu orang di sekitarku. Ada ibu-ibu sendirian menggendong bayinya, ada pula bapak-bapak yang terkantuk-kantuk kelelahan sembari menenteng ransel besarnya. Sebagian besar adalah orang dewasa yang aku yakin mereka akan pulang kampung.

Hmm … setelah itu kuamati orang-orang yang mendapatkan tempat duduk. Beruntungnya mereka dapat terlelap ketika di luar hujan deras begini. Aku jadi menangkap satu hal. Mengalah di dalam bus rupanya tidak berlaku untuk perjalanan jauh.

Sebagian besar yang berdiri adalah wanita, dan yang duduk adalah para pria. Aku tahu, mengalah kadang bisa menjadi tak perlu jika tubuh sudah amat lelah, atau perjalanan terlalu jauh. Antar kota, lho. Jogja – Magelang bahkan sudah beda provinsi.

Perjalanan  kutempuh selama 2 jam lebih. Sampai Magelang hujan deras. Bahkan beberapa sudut jalanan banjir lumayan tinggi. Heran. Magelang saja banjir, bagaimana daerah lain yang letaknya lebih rendah?

Sampai terminal Magelang, lagi-lagi aku bernapas lega karena bus yang akan mengantarku ke rumah adalah bus terakhir. Untung saja masih tersisa bangku kosong.

Rupanya bus nge-time cukup lama. Hingga ketika akan berjalan, baru kusadari bahwa di dalam bus yang penuh ini, aku adalah satu-satunya perempuan. Hei!

I’m off the deep end, watch as I dive in

I’ll never meet the ground

Crash through the surface, where they can’t hurt us

We’re far from the shallow now

Jelas aku menjadi paranoid dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa dan memohon ampunan Tuhan. Bagaimana ini?

Ponsel menjadi satu-satunya benda untuk menghiburku. Ada satu pesan masuk di akun instagram. Dari Iwy, cewek mungil anak Kaplink yang kuanggap adik sendiri.

“Ngapain ke Jogja Mbak?”

“Cari jodoh,” gurauku. Sekaligus menghibur diri sendiri supaya rasa parnoku hilang.

Hingga akhirnya, Iwy mengajakku panggilan video. Di layar, tampak ada Dela, Ipi, Mas Tegal, dan Fian yang sedang seliweran. Mereka adalah penolong yang Tuhan kirim padaku di saat yang tepat.

Tak lama, penumpang bus yang kutumpangi bertambah juga. Kali ini, ada penumpang wanita. Aku baru bisa bernapas lega.

In the shallow, shallow

In the shallow, shallow

In the shallow, shallow

We’re far from the shallow now

Sampai rumah pukul 9 malam. Aku langsung membersihkan diri dan tepar. Ah, besok Senin harus bersiap  ke Jogja lagi.

Cukup sekian ceritaku. Kalau lagunya nggak nyambung, mohon maklumi saja. Aku menempatkan lagu tersebut sebagai backsound tulisan ini karena pas banget musiknya. Pas klimaks lagu pun pas aku sedang ketakutan. Hehe. (Maksa)

Monggo habiskan dulu tehnya.

11 KOMENTAR