Selamat pagi semua, haiii Sahabat Penakata di manapun kamu berada. Rasanya lama sekali aku nggak mempublikasikan tips menulis.

Baiklah, kali ini aku bakal share tentang pemilihan nama dan gimana cara bikin tokoh yang menarik. Yuk kitaΒ bahas ….

Sekali lagi, apa yang aku share berdasarkan pengalaman pribadi ya, tanpa maksud menggurui. Boleh dicoba boleh diabaikan, siapa tahu kamu cocok dengan caraku belajar.

Let’s talk about it. Gimana caranya agar tokoh kamu menarik dan klik di hati pembaca,

1. Pilih nama yang simpel dan mudah diucapkan. Gampang diingat dan pas baca satu nama tokoh kamu, mereka akan langsung kebayang sifat dan pembawaan karakter itu.

Contoh: Joanna, cuma dipanggil Jo.
Mandala yang dipanggil DL (Di El)
Inneke yang hanya dipanggil, Ke.
Aku punya tokoh genre scifi namanya panjang, tapi panggilan cuma Zach dan Abbey.

Intinya, mau nama tokoh kamu panjang, tapi nickname usahakan tetep yang mudah untuk diingat dan disebut.

2. Beri keunikan dalam sifat tokoh kamu. Contoh,
Joanna yang nyebelin dan suka nempel sama cowok padahal dia udah nikah.

Bayu yang mesum mode on. Wkwkwk menurut survei kecil-kecilan yang kubuat, pembaca bilang, mereka paling gampang inget sama tokoh Bayu Kurniawan.

Oh ya, buat tokohmu konsisten dengan sifatnya, jangan tahu-tahu bisa berubah seenak penulis. Pun, ketika dia mengambil pilihan di epilog usahakan selogis mungkin. Jangan sampai maksa, bisa jadi salah eksekusi dan cerita yang kamu tulis jadi gagal di ending. (Apalagi yang gampang tertebak, aduh kan jadinya nggak seru)

3. Beri ciri khas dalam kehidupan sehari-hari. Misal, suka pakai topi lah. Suka bawa-bawa barang tertentu, punya kata-kata yang sering diucapkan, kayak jargon gitu. Ciri khas ini yang akan membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Apalagi kalau tokoh dalam cerita kamu banyak. (Tokoh di ceritaku selalu banyak soalnya. Enggak cukup satu pasang protagonis)

4. Bedakan tokoh satu dengan yang lain. Tolong dibedakan yak! Seorang penulis, bagiku bisa dianggap berhasil sebagai novelis, ketika dia bisa lompat gender. Dalam artian, tokoh fiksi yang dia buat itu hidup, seorang penulis cowok bisa membuat karakter cewek dan berhasil. Begitu pula sebaliknya. Meskipun, karyanya belum jadi terkenal ataupun terbit mayor.

Ketika penulis berhasil menjadi bukan dirinya. Di situlah titik terbesar dia akan cepat berkembang. Sejauh ini, sudah ada beberapa orang yang kukenal dan penokohannya bagus.

NB: Tokoh fiksi ya, bukan interpretasi. Fiksi dan interpretasi itu beda dan sangat kentara perbedaannya, menurutku.

Pedomanku dalam menulis satu cerita adalah. CHARACTER IS PLOT.
Ketika tokoh kamu bagus, penggambarannya berhasil dan kamu bisa menjadi dia, di situlah kamu enggak akan kehabisan kata untuk menulis. Karena dia berjalan sendiri, sedangkan kamu tinggal menyampaikan pada pembaca.

Makanya aku sering balas komen dengan bilang, “Emak ngikutin mau mereka.” Itu bukan jawaban asal dan kosong. Karena apa? Karena mereka bergerak sendiri dan aku tinggal menulis. Terserah mereka maunya apa. Aku mah ngikut. Seperti mereka bicara denganku dan kita sedang diskusi panjang.

Sampai di sini dulu deh, ada yang perlu ditanyakan, atau pengen dibahas lebih lanjut. Ramaikan komentar yuk ….

 

 

Stay here, 02.27

06 April 2019

 

Yuke

8 KOMENTAR

  1. 1. Namanya Tri Admodjo, panggilannya Gotri, ketika besar panggilannya Gotrek.

    2. Gotri selalu ingin mencoba hal baru.

    3. Ciri khasnya, Gotri anak nakal.

    4. Gotri beda sekali dengan bapaknya yang ustad.

    Itulah deskripsi tentang cerita yang berjudul “Gotri dan Kenakalannya” berdasarkan tips menulis ini.