sumber: pixabay.com/steve_a_johnson

Halo kawan-kawan goodwriters! Sepi amat, apa kabar? Semoga nggak pada mager nulis sepertiku. Hehehe.

Mager. Kata satu ini penyakit banget memang. Yang awalnya berencana menulis ini, itu, apapun … eh terbengkalai. Iya, hal ini kualami ketika akan menulis challenge dari Penakata feat Bang Dina. Omaigat! Lima hari lagi dateline, Gengs.

Ketika menulis challenge beberapa paragraf, aku mengalami writer’s block alias buntu. Lalu aku berhenti, dan mager untuk meneruskan lagi. Setelah itu kucoba menulis tulisan lain: cerpen. Buntu juga. Alamak, piye iki?

Ya maklum sih. Kita adalah hooman (plesetan dari human). Bukan malaikat yang selalu taat pada-Nya, bukan pula mesin yang tidak pernah merasa lelah dan bosan mengerjakan rutinitas. Wajar, asal kemageran ini tidak dibiarkan bertahan lama.

Sampai akhirnya aku mendapatkan ide dari membaca buku dan dari kemageran yang kualami untuk menulis ini. Di bawah ini adalah tips ala-ala  untuk mengatasi mager dan supaya lebih produktif menulis. Jangan dijadikan patokan, karena belum terjamin keberhasilannya. Tapi boleh lah dicoba, barangkali cucok meong.

  1. Nikmati sejenak rasa mager

sumber: pixabay.com/Shanon

Oke, ini tipsnya ngawur abis. Tapi beneran lho, Gengs. Mager memang dapat hadir kapan pun dan di mana pun. Nikmati saja sejenak. Bisa jadi mager kita karena bosan. Bolehlah pikiran ini dimanjakan dengan hal-hal yang dapat melepas penat. Main game misalnya, nonton film, baca buku, nonton Youtube, tidur, atau apapun deh.

Aku yakin, kita lebih tahu diri kita sendiri. Mesin saja butuh dimatikan sejenak supaya tidak terlalu panas dan nantinya akan rusak. Begitupun diri kita.

  1. Ingat tujuan atau alasan kita menulis

sumber: pixabay.com/TeroVesalainen

Aku pernah menonton serial Jepang berjudul Majisuka Gakuen tentang sekolah yankee. Salah satu tokoh mengatakan, “Berikan aku alasan untuk berkelahi. Karena tanpa alasan, maka tidak akan ada artinya.”

Bayangkan, berantem saja pakai alasan. Sebenarnya kita ini menulis untuk apa? Aku yakin, setiap diri kita memiliki jawaban yang bisa jadi sama, bisa jadi berbeda. Jika sudah punya tujuan/alasan, maka kita tidak akan dengan mudah berhenti melakukannya.

  1. Jadikan menulis adalah hal yang menyenangkan

sumber: pixabay.com/StockSnap

Menulis itu memang susah, Gengs. Susah, kita harus repot-repot menggerakkan jari-jemari kita untuk mengetik, menguras otak kita untuk berpikir, bahkan susah payah harus cari referensi bahan karena tidak mau menulis asal-asalan. Tapi kita mau, ya ‘kan? Itu dia, kita mau karena hati kita pasti ada rasa senang ketika melakukannya.

Baik, mari kita coba menulis dengan sederhana. Tidak usah paksakan diri untuk menulis ini, atau itu yang jauh di luar batas kemampuan kita. Tapi tulis saja yang kita mau, kita inginkan, atau kita senangi. Tulisan apapun, sepanjang atau sependek apapun, ayo kita tulis. Curhat, misalnya. Out of the box boleh, tapi kalau kejauhan, mager lagi deh. Lalu, menulislah dengan suasana yang kita sukai. Misal kita suka menulis di ponsel daripada di laptop, ya lakukanlah. Lebih suka menulis sambil tiduran, berdiri, atau justru jongkok, ya lakukan saja.

  1. Nikmati proses menulis itu

sumber: unsplash.com/nickmorrison

“Orang yang paling bahagia bukanlah orang yang paling banyak pencapaiannya. Orang yang paling bahagia adalah orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam flow; dalam keadaan mengalir.”

– Ikigai, The Japanese Secret to a Long and Happy Life

Ketika menulis, ya coba untuk memfokuskan jiwa dan raga kita benar-benar untuk menulis. Asyeek. Maksudnya, ketika menulis, cobalah untuk fokus terhadap apa yang kita tulis. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang ada di luar sana, seperti apa yang akan kita lakukan setelah menulis, bagaimana jika tulisan kita jelek dan tidak ada yang membaca, apalagi memikirkan chat kita sudah dibalas doi belum.

Haduh, percaya deh. Itu hanya akan membuat kita memiliki kekhawatiran yang tidak perlu, sebab pikiran kita sudah autopilot memikirkan hal-hal terlalu jauh. Yang membahagiakan sesungguhnya adalah proses, hasil hanya penyerta. Coba, yuk! Ini bukan kataku lho ya, tapi kata buku. Hehe.

  1. Do it now!

sumber: pixabay.com/frankspandl

Tips-tips di atas tidak akan ada gunanya jika kita tidak memulainya dari sekarang, Gengs. Mager akan semakin manja dan tidak tahu diri jika semakin dituruti. Maka, harus kita paksa untuk menulis sekarang juga. Memulai memang bagian paling berat, tapi yakin deh. Kalau sudah memulai menulis satu atau dua kata, pasti nanti akan mengalir.

Oh ya, jangan lupa berdoa pada Tuhan ketika akan memulai menulis supaya dilindungi dari godaan setan yang terkutuk. Karena mager sesungguhnya adalah rasa malas. Malas datangnya dari setan.

Yak, tips-tips tersebut boleh dipercaya, boleh tidak. Boleh dicoba, boleh tidak. Barangkali kawan-kawan goodwriters punya tips yang lebih manjur, mari diskusi di kolom komentar. Salam hangat, semoga bermanfaat.

7 KOMENTAR