Pixabay.com

Aku bergegas menuju perpustakaan kampus yang letaknya tidak jauh dari asrama. Aku cukup bersyukur tidak tiba pada musim dingin, ya walaupun suhunya saat ini tetap menambah panjang waktu adaptasiku.

Niatnya ingin mencari referensi untuk tugas esai yang harus dikumpul besok siang, tapi buku-buku tebal di depanku terlihat seperti tumpukan bantal yang membuat mataku mengantuk. Ah..aku malas mikir jadinya, menikmati pemandangan di luar sepertinya bukan ide yang buruk.

“Kamu tidak apa-apa? Pipi dan hidungmu sampai merah begitu.”

Telingaku menangkap bahasa yang sangat ingin kudengar. Aku menoleh dan mendapati seorang wanita menyodorkan sapu tangan, mengisyaratkan untuk menyeka hidungku. Aku mimisan lagi.

“Mimisan biasa”
“Yakin? Tidak perlu dibawa ke dokter?” sarannya.
“Tidak perlu.”

Dia kemudian meletakkan buku-buku yang ia bawa dan duduk disampingku. Mata ini terlalu ingin tahu dan melirik buku-buku tersebut, mataku terpaku pada salah satu nama.

“Apakah Anda mengenal Dr. Helen?” tanyaku penasaran.
“Beliau supervasiorku dulu” bisiknya.

Baiklah, bagaimana bisa? Dia dan Dr. Helen terlihat seusia, aku penasaran semuda apa Dr. Helen dulu saat menjadi supervisor wanita di depanku ini.

“Siapa Moska?” tanyaku lagi.
“Nama kucing kesayanganku”
“Wah..jadi Anda seorang penulis?”
“Pemula, aku membantu membuatkan cerita dari materi yang biasanya Dr. Helen ajarkan, buku untuk anak-anak dan remaja” sahutnya dan menyerahkan buku tersebut padaku.
“Aku tinggal sebentar, mau melihat buku-buku lama untuk referensi.”

Kubuka bagian daftar isi, arbus? Aku langsung membuka halaman berjudul arbus tersebut dan mendapati ulasan menarik. Selang beberapa menit dia kembali dan meletakkan buku tebal berjudul Molecular Biology of The Cell edisi keenam cetakan tahun 2014. Waw…buku cetakan tahun 2014 sudah termasuk buku lama untuknya.

“Bukunya bagus sekali” pujiku pada buku yang ia serahkan tadi.
“Bagus?” tanyanya seraya membuka buku tebal yang baru ia bawa.
“Iya, menarik sekali, dari judul-judul yang kubaca di daftar isi”
“Kukira kamu sudah membaca bukunya sampai halaman terakhir” dia terkekeh.
“Ide dari tanaman arbus sungguh luar biasa”
“Apakah itu sangat luar biasa bagimu?” dia menghentikan kegiatan membaca dan menoleh padaku.
“Tentu saja, Dr. Helen dan Anda juga sangat hebat, bisa membuat buku ini” pujiku lagi.
“Apakah terlihat seperti itu?”
“Sepertinya…” ucapku menerka, aku juga tidak yakin.
“Apa kamu merasa bahagia setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan?” wanita ini sepertinya suka sekali bertanya, dan sebenarnya aku tidak terlalu mengerti arah dari pertanyaannya.
“Tentu saja” jawabku sekenanya.
“Aku juga merasa begitu, tapi dulu. Aku senang bisa melanjutkan studi dan bisa menerbitkan buku bersama Dr. Helen. Tapi kurasa tidak sepenuhnya aku bahagia”
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Kau tahu alasanku melanjutkan studi di sini? Jauh dari Indonesia” dia balik bertanya.

Aku menggelengkan kepala, tentu saja aku tidak tahu.

“Karena aku patah hati, aku memendam rasa suka terlalu lama pada sesosok makhluk bernama laki-laki dan aku tidak mampu mengatakannya. Saat kutahu ia akan menikah, aku memutuskan untuk mengambil jarak darinya, pergi jauh semampu yang aku bisa.”

Wanita ini sepertinya sedang mencurahkan isi hatinya, tapi kenapa ya jantungku jadi ikutan merasa sakit, terasa perih.

“Alasan itu kurasa yang menjadikanku hampa, walaupun aku mendapatkan apa yang aku mau. Aku menutup hatiku, sekarang aku mencoba untuk membukanya lagi. Entah ini sudah terlambat atau tidak”
“Kurasa tidak ada kata terlambat” mulutku tiba-tiba berucap, dan aku juga terkejut dengan ucapanku.
“Ya, kurasa itu untukmu. Belum terlambat untukmu”
“Untukku?” tanyaku heran.
“Bacalah lagi bukunya! Aku mau mencari buku lagi.”

Dia kemudian meninggalkanku dengan pertanyaan super membingungkan tadi. Rasa penasaran ini membuatku menjadi lancang dan membuka buku catatan yang dia bawa. Aku cukup kaget dengan sebuah foto yang tersemat pada sampul bagian dalam buku catatannya.

Perpustakaan Pepsy dengan sungai Cam yang berpadu dengan sunset. Seperti sunset pertamaku dua bulan yang lalu. Aku ambil foto tersebut dan membaliknya, tepat seperti apa yang aku tuliskan dulu, tulisan namaku dalam alfabet Iban tepat di tengah.

“Sorry, are you sleeping?”

Aku terbangun dengan mata berat, aku tertidur. Hari merangkak sore, sunset kelima puluh sembilanku telah menyapa, saatnya aku kembali ke asrama.

 

What`s your tomorrow going to bring?

11 KOMENTAR