Kami siap berkeliling dan menampilkan yang terbaik (sumber: dok. pribadi)

Selamat Idul Fitri, goodwriters. Mohon maaf lahir dan batin ya atas segala salah dan khilafku. Permintaan maaf ini tidak cuma formalitas, kok. Sungguh, di bumi Penakata ini pun, kadang masih skip membaca tulisan teman-teman, berkomentar yang mungkin kurang berkenan di hati, dan sebagainya.

Ah, hari ini adalah pemurnian hati setelah sebulan berperang dengan hawa nafsu. Kalau boleh jujur, yang kurindukan adalah momen di hari-hari Ramadan. Bukan, kok. Bukan aku sok-sokan merindukan Ramadan karena aku adalah orang yang rajin beribadah. Weladalah, juaauuuh!

Aku rindu masa-masa harus berpuasa meski sedikit-sedikit mengantuk ketika beraktivitas, rindu memburu dan berjualan takjil, serta rindu segala suasananya. Di hari yang fitri ini, seakan-akan semua berakhir dan akan kembali pada hari-hari biasa.

Meski demikian, ada rasa sedih yang masih menghinggap di benakku ketika mengingat segala salahku pada orang-orang terdekat dan kucintai. Konflik batin, perang dingin, dan segala hal yang membuat tali ini sedetik saja akan terputus.

Ketahuilah, aku tahu aku salah. Aku pun tahu hatimu besar. Hilangkanlah prasangka bahwa permintaan maafku hanya formalitas. Biarkan saja itu menjadi rahasiaku, dan juga Tuhanku. Yang kuinginkan dari hati terdalam hanyalah, tali kita ini tersambung kembali.

Seerat-eratnya. Hingga kamu dan kamu, tak lagi menyimpan rasa benci padaku. Meski sesungguhnya aku pantas dibenci. Duh, tak terasa air mataku menetes waktu menulis ini. Sudahlah.

Ah ya, satu lagi. Yang kurindukan adalah suasana takbir keliling. Takbir keliling adalah tradisi menahun di kecamatanku, Kecamatan Parakan. Mungkin di berbagai daerah memang menjalankan tradisi sejenis. Namun kalau di daerahku, takbir keliling ini dilombakan.

Selama bulan Ramadan, begitu pengumuman informasi lomba takbir keliling diumumkan panitia, para muda-mudi di kampungku langsung mengadakan rapat. Kapan lagi satu kampung yang terdiri dari beberapa RT dan RW pemudanya bisa berkumpul jadi satu, bukan?

Di kampungku, karang taruna untuk pemudanya bernama PERISKA (Pemuda dan Remaja Islam Karangsari). Sebentar, namanya ada “islamnya” ini khusus untuk acara takbir keliling. Bukan berarti tidak solid dengan pemuda yang beragama lain, ya. Kalau bawa-bawa agama suka sensitif.

Semua pemuda mendapat jobdesk untuk persiapan takbir keliling ini. Soalnya kalau ada yang terlewat jobdesk untuk satu orang saja, waaah! Dijamin dia tidak akan hadir dan bantu-membantu. Bahkan bisa-bisa mempengaruhi teman-teman akrabnya untuk tidak turut serta dalam acara-acara kampung.

Persiapan takbir keliling ini cukup banyak, karena kriteria penilaiannya pun beragam. Mulai dari maskot. Maskot biasanya dibuat sesuai tema. Kalau tahun ini sih temanya “Persatuan Indonesia”. Kampungku membuat tiruan Gong Perdamaian. Maskot cukup dibuat dengan barang-barang yang mudah ditemukan, bahkan kalau perlu barang bekas. Jadinya seperti ini nih.

Maskot Gong Perdamaian (sumber: dok. pribadi)

Lalu, hal lain yang dinilai adalah penampilan. Takbir keliling ini nanti akan ada panggungnya, di mana terdapat juri-juri yang akan menilai. Oleh karena itu, di panggung, selain kumandang takbir, juga harus ada penampilan unik.

Kampungku punya ide untuk menampilkan tarian singkat dari berbagai daerah di Indonesia. Penari nantinya akan memakai pakaian adat dari berbagai daerah yang beragam. Kelihatan seru, ‘kan? Memang seru!

Kekompakan muda-mudi kampungku bisa terlihat mulai pertengahan Ramadan ketika latihan rutin mulai dilaksanakan. Semua latihan dengan sungguh-sungguh sesuai tugasnya. Tak peduli walau sampai jam 12 malam. Sebab, mulainya saja jam 9, sehabis tarawih dan tadarus. Semua tetap solid dan saling membutuhkan, meski udara dingin Temanggung di jam-jam segitu sudah bertiup menembus tulang.

Oh ya, ada satu lagi kriteria penilaian. Kumandang takbir dan musik pengiringnya. Ah, kamu tahu, pengiring takbir di kampungku menggunakan marching band lengkap dengan baleranya. Vokalnya pun dipilih pemuda-pemuda yang memang suaranya bagus dan jago azan.

Tak terasa waktu semakin berlalu. Bulan Ramadan telah habis, berganti dengan kumandang takbir yang mulai terdengar seiring tegukan kolak di hari terakhir buka puasa. Sehabis isya, kami sudah bersiap-siap berangkat keliling kecamatan. Tentu saja, dengan kostum dan penampilan yang siap merebut piala kemenangan.

Kami siap berkeliling dan menampilkan yang terbaik (sumber: dok. pribadi)

Di pinggir jalan, para warga sudah berjajar rapi untuk menonton pawai dari masing-masing kampung. Tentunya, dengan maskot yang beragam dan keren-keren, seragam yang pastinya tak sama, serta penampilan dengan keunikan masing-masing.

Sepanjang jalan, kami mengumandangkan takbir. Diiringi oleh vokal utama dan marching band. Hingga sampai panggung, kami bersiap-siap memberikan penampilan terbaik.

Para penari dengan pakaian adatnya berkonsentrasi tampil dengan maksimal, begitu pula marching band. Dan tentunya, anak-anak dan ibu-ibu yang masuk barisan peserta takbir. Kumandang takbir harus kompak dan barisannya rapi.

Para penari berpose di depan maskot (sumber: dok. pribadi)
Ini nih para penari dengan pakaian adat, meskipun formasi tidak lengkap (sumber: dok. pribadi)
Tim marching band beraksi (sumber: dok. pribadi)
Piala kemenangan kami (sumber: dok. pribadi)

Syukurlah, kami berhasil menampilkan yang terbaik dan kampungku merebut juara 2. Tak apa, tak ada hasil tanpa usaha dan kekompakan. Semoga setelah ini, pemuda-pemudi kampungku makin kompak. Ah, aku bangga.

Mungkin ini tulisan yang terlambat. Namun sekali lagi, selamat Idul Fitri 1440 H. Bagaimana lebaranmu?

Temanggung, 5 Juni 2019 09.30 WIB

2 KOMENTAR