sumber: pixabay.com/Free-Photos

Malam Jumat Kliwon, beberapa tahun silam

Hari sudah petang. Matahari sedang proses tenggelam. Gunung Sindoro yang gagah seolah turut menyembunyikan makhluk menyilaukan yang kini kalau dipandang tidak membutakan. Berbeda dengan siang hari di kala orang-orang rolasan. Coba saja, sambil nyemil mendoan dan nyeplus cabai rawit, melotot menghadap langit. Dijamin, buta!

Itulah mengapa Makne selalu memberi wejangan, “Urip kuwi kaya srengenge, Le. Yen lagi ning nduwur, ya wes lakokna peranmu. Ojo rumangsa pengen didelok wong.” (Hidup itu kaya matahari, Le. Kalau sedang di atas, cukup jalankan peranmu. Jangan selalu merasa ingin disanjung.)

Atau bisa juga, “Ngilo, Le. Ojo madhep nduwur terus. Yen ora mampu, kowe bakal wuta!” (Ngaca, Le. Jangan mendongak ke atas terus. Kalau tidak mampu, kamu akan terbutakan.)

Makne pancen mirip dengan Pepak Bahasa Jawa zamanku SD. Isinya banyak peribahasa Jawa yang artinya adalah nasihat.

Namun, tidak semua nasihat beliau kuturuti. Seperti petang ini. Azan magrib mulai berkumandang seiring dengan cacing-cacing di perutku yang turut menjawab azan. Eh bukan, aku lapar!

Aku sudah berdiri di tepi jalan raya Kledung. Bersiap melambaikan tangan kalau menemui bus yang menuju Parakan. Aku sudah tak sabar menyantap hidangan empis-empis dan sega jagung yang tiap hari Makne hidangkan untuk makan malam. Bosan sih, tapi ha piye? Enak je!

“Met, bali?” (Met, pulang?)

Bejo yang rumahnya dekat jalan raya menyapaku. Kebetulan ia baru pulang dari sawah. Si Bejo ini memang bejo. Capek-capek jadi wong tani, tapi nggarap sawahnya sendiri. Punya Bapaknya sih. Berbeda denganku. Mburuh sawah juragan mbako. Yo ra popo, meskipun tiap hari aku harus naik bus selama setengah jam. Yang penting Makne seneng.

Iyo, Jo.”

Magrib-magrib, mampir sek!”

Ora ah, Jo. Wis sayah. Ndak ra ono bis nek kewengen.” (Enggak ah, Jo. Udah capek. Takut nggak ada bus kalau kemaleman.)

Ah, tiba-tiba aku ingin sambat. Biasanya aku tidak pulang sesore ini. Maksimal jam 5 sore sudah sampai rumah. Tapi gara-gara juraganku ada tamu, alhasil pekerjaanku jadi lebih banyak karena aku nggarap bagiannya juga.

Tenan ki?” (Beneran?) Bejo masih saja menanyaiku.

“Iyo, Jo.”

Owalah, gondol lampor ndais de’e!” (Owalah, diculik setan tau rasa kamu!)

Ora Jo, slamet, slamet!” ngeyelku. (Enggak Jo, selama, selamat!)

Bejo hanya menghela napas lalu masuk ke dalam rumah.

Seperti halnya Bejo yang tidak kuturuti sarannya, aku memang berniat melanggar nasihat Makne untuk tidak bepergian di kala azan magrib. Apalagi belum shalat. Katanya bisa diculik setan. Setan endi sing bakal nyulik aku sing gedene semene? (Setan mana yang bakal menculikku yang sebesar ini?)

Lagi pula, namaku Slamet. Aku yakin, nama itu mengandung doa dari Makne dan Bapakne yang ikhlas supaya putra sulungnya ini selalu selamat di mana pun berada. Andai sebelum lahir aku bisa request, aku ingin meminta mereka menamaiku: Slamet Bejo atau Slamet Bejo Mulyono. Sepertinya aku sudah jadi anak gedongan.

Meski azan magrib di satu tempat selesai berkumandang, selalu ada susulan azan magrib dari tempat lain yang terdengar di telingaku. Membuat hati kecilku agak takut juga. Iya takut, soalnya terngiang-ngiang di benakku bahwa aku melanggar nasihat Makne.

Tak lama, bus engkel sudah berhenti di depanku setelah kulambai dengan semangat. Tambah semangat ketika bus yang kutumpangi ini melaju ngebut.

“Terakhir, Mas! Bar iki mlaku samang!” (Terakhir, Mas! Habis ini jalan kamu!)

Nggih Lik,” jawabku sambil memberi kenek tersebut uang kertas 100 rupiah sebanyak 5 lembar. Sudah paham kalau bus ini terakhir. Penumpangnya saja sudah penuh. Mereka semua sudah tertidur pulas sampai kepalanya terangguk-angguk hampir berbenturan satu sama lain.

Tak sampai lima menit berjalan, aku ikut tertidur. Mimpi empis-empis tempe membuatku ngiler. Tambah lagi emak menyiapkan wedhang ronde yang baunya sudah semerbak. Aku menghirup aroma jahe yang menjalar hangat di perutku.

Tiba-tiba suara “Duakkkk!” disertai guncangan yang amat keras membangunkanku dengan paksa. Melenyapkan empis-empis dan wedhang ronde dari mimpiku. Kaget setengah mati, aku sontak berteriak, “Ono opo? Ono opo?”

Tak ada satu pun yang menjawab. Aku yang duduk di depan, tepatnya persis di belakang sopir lalu menoleh ke belakang. Benar saja, sudah tidak ada orang.  Saking nyenyaknya tidur, sampai orang-orang turun saja aku tidak tahu. Aneh sekali. Bus ini tujuannya masih jauh. Tapi penumpang sudah habis. Dan yang paling aneh adalah, Lik Yo – kenek yang kukenal tadi ikut menghilang. Eladalah! Mungkin sudah turun pas bus ini melewati daerah rumahnya. Padahal setauku, rumah Lik Yo dekat rumahku. Ah, wis lah. Mungkin ada acara lain.

Tinggallah aku bersama Lik Sopir yang sedari tadi diam saja. Bus yang ia bawa pun semakin ugal-ugalan.

“Pelan mawon Lik,” mintaku pada Lik Sopir. Ia tetap diam saja.

Hening selama beberapa menit membuatku kembali menguap.

Tuluuung, tuluuuung!”

Baru saja hendak memejamkan mata, aku menoleh ke belakang ketika mendengar seseorang berteriak minta tolong. Ah, suara dari mana ini?

Sinten niku, Lik?” (Siapa itu, Lik?)

Entah Lik Sopir memang memiliki gangguan pendengaran atau memang tak berniat menjawab pertanyaanku, lagi-lagi aku seperti berbicara sendiri. Koyo wong edan! Baiklah, aku memilih diam sambil mencoba memejamkan mata.

Tuluuuungtuluuung!”

Suara itu terdengar lagi. Aku kembali membuka mata perlahan. Suara itu semakin keras dan jelas. Bahkan terdengar semakin ramai. Seolah banyak orang yang merintih kesakitan dan membutuhkan pertolongan. Siapa mereka? Dan di mana asal suara tersebut?

Meski lapar, akal sehatku masih dapat berpikir. Mungkinkah suara dari luar bisa terdengar sampai dalam bus dengan jelas? Padahal bus melaju kencang. Harusnya suara itu dengan cepat akan lenyap.

Tuluuuung …”

Bulu kudukku berdiri. Entah apa yang yang kupikirkan, hati ingin sekali mendorong kepala untuk menoleh ke belakang.

Bagai ditembak meriam zaman penjajahan, jantungku seolah melompat keluar. Kaget setengah mati. Mak nyas! Kulihat kursi belakang kembali penuh. Bedanya, kali ini para penumpang tampak berlumuran darah dan penuh luka. Meski tidak begitu jelas dari tempatku duduk, tapi ada baru amis darah dari mereka yang sebagian besar menunduk. Mereka merintih, mengaduh kesakitan.

Bahkan, Lik Yo kini muncul lagi dan terduduk persis di pintu bus dengan kepala yang mengucurkan darah. Ia menghadap jalanan. Membuatku tak dapat melihat wajahnya. Ah, apakah tadi aku hanya mimpi kalau semua penumpang sudah turun? Atau sekarang ini yang mimpi?

“Lik!” Karena penasaran, kupanggil Lik Yo yang seolah tak kedinginan terpapar angin dari luar.

Ia tak menoleh. Ah, mereka semua kenapa sebenarnya?

“Lik!” panggilku sekali lagi sambil mengguncang bahunya. Ada percikan darah. Ia menoleh perlahan.

Begitu melihat Lik Yo dengan penampilan yang menyeramkan: wajah berlumuran darah, mata hilang sebelah, dan tulang tiga ruas tulang rusuk mencelat keluar, aku tak sanggup lagi untuk berteriak. Semuanya menjadi gelap seketika.

*

Le, subuh, Le.”

Aku terbangun mendengar suara Makne yang berkali-kali membangunkanku. Mengerjapkan mata sejenak, aku lalu bergegas ke kamar mandi untuk bersiap shalat subuh.

Sehabis shalat subuh, aku mengeluarkan burung-burung peliharaanku untuk dijemur sambil memberi mereka makan. Makne menyiapkan sarapan sego gono.

“Untung yo Le, wingi awakmu ora numpak bis Maju Mundur.” (Untung ya Le, kemarin kamu nggak naik bus Maju Mundur.)

Emang ono opo, Mak?” (Emang ada apa, Mak?)

Kae lho, bis terakhir seko Wonosobo. Sing mlakune sok ngebut. Lik Yo keneke. Mosok awakmu ra tau numpak?” (Itu lho, bus terakhir dari Wonosobo. Yang jalannya suka ngebut. Lik Yo keneknya. Masa kamu nggak pernah naik?)

Aku menghentikan sejenak aktivitasku memberi makan burung dengan telur semut alias kroto. Aku kan semalam naik bus Maju Mundur pas pulang kerja!

Ngerti, Mak. Aku mau mbengi numpak bis kae. Kenopo?” (Ngerti, Mak. Aku semalam naik bus itu. Kenapa?)

Makne tampak kaget, lalu menoleh padaku. “Hah? Ra usah ngapusi!” (Hah? Nggak usah bohong!)

Tenan, Mak! Aku wani sumpah! Wong aku medun wetan pasar, kok. Takon Lik Yo nek ra percaya!” (Tenan, Mak! Aku berani sumpah! Wong aku turun di samping timur pasar, kok. Tanya Lik Yo kalau nggak percaya!)

Makne lalu tergopoh-gopoh menghampiriku. “Hus!! Nek ngomong ojo ngawur! Lik Yo wes ra ono! Bis kuwi mau mbengi kecelakaan ning Sigandul. Mlebu jurang.” (Hus!! Kalau ngomong jangan sembarangan! Lik Yo sudah meninggal. Bis itu semalam kecelakaan di Sigandul. Masuk jurang.)

Kali ini gantian aku yang kaget. “Hah? Mosok Mak? Jam piro?” (Hah? Masa, Mak? Jam berapa?)

Magrib-magrib. Mau mbengi wong-wong pada ribut, awakmu malah linglung, langsung mlebu kamar. Makne wes khawatir nek kowe melu bis kuwi.” (Magrib-magrib. Semalam orang-orang pada ribut, kamu malah linglung, langsung masuk kamar. Makne udah khawatir kamu ikut bis itu.)

Hah? Trus mambengi aku bali numpak opo, Mak??” (Hah? Trus semalam aku pulang naik apa, Mak??)

***

Hai, goodwriters. Niatnya bikin cerita horor, tapi nggak serem, ya? Haha.

Cerita ini banyak mengandung dialek Temanggung. Semoga paham dengan terjemahannya, hehe. Oh ya, ini fiksi belaka, hanya mengambil latar tempat yang nyata. FYI, Sigandul adalah nama sebuah jembatan di daerah Kledung. Di sini sering terjadi kecelakaan karena  curam dan tikungannya tajam. Sementara di sampingnya adalah jurang.

Namun kini, Jembatan Sigandul baru sudah dibangun lebih bagus di sebelah jembatan lama. Selain mengantisipasi kecelakaan, jembatan baru ini justru jadi objek wisata dengan pemandangan yang ciamik.

Jembatan Sigandul (sumber: pelesirtemanggung.files.wordpress.com)

7 KOMENTAR