Image by pexels

Gemah takbir terus berkumandang. Allahuakbar … Allahuakbar…

Sholat Id pagi tadi berjalan lancar di kampung nek Inem. Suasana terlihat sedikit mendung, namun tidak ada gerimis apalagi hujan. Teduh dan sejuk.

Setelah sampai di rumah, nek Inem langsung berganti pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari. Ia berniat untuk menyibukkan diri daripada berkutik dengan kesepian yang sering tiba-tiba menghantam. Tidak ada kemeriahan apapun di rumahnya. Beda jauh dengan rumah para tetangga yang terdengar sangat meriah saat dia pulang dari Mesjid pagi tadi.

Beberapa warga juga sempat ramai menyalami sambil bermaaf-maafan di tengah jalan. Walau sampai di rumah, kesunyian malah lebih ramai menyapanya.

Walaupun begitu, ruang tamu nek Inem tetap terlihat bersih dan tampak indah dengan kain tirai ala kadarnya. Toples-toples kecil berjejer rapi di meja tamu. Masakan daging rendang dan sambal tempe sudah terhidang di meja makan. Nek Inem tetap merayakan lebaran walau hanya hidup sebatang kara.

Setelah selesai ia pun segera bergegas melangkah ke luar rumah dan berjalan pelan-pelan ke arah ladang yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah.

~~~
Sore hari setelah hampir seharian di ladang, nek Inem pun memutuskan pulang untuk istirahat. Lumayan juga bisa mencangkul beberapa meter tanah yang rencananya akan ditanami batang singkong setelah lebaran nanti.

Suasana senja mulai menampakkan diri. Setelah mandi dan solat, ia pun duduk di salah satu kursi sambil menonton tv tuanya dan menyantap nasi bersama daging rendang buatannya sendiri. Tak lupa sesekali perhatiannya mengarah pada pintu.

Masih berharap ada sosok yang ia tunggu muncul di ambang pintu itu. Namun tetap saja yang ada hanya lambaian angin sore yang berkelebat sepi di balik tirai jendela rumah kecilnya yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Lima tahun berlalu tak mampu membuatnya lupa akan kebersamaan yang pernah ia rasakan saat bersama suaminya. Tanpa memiliki keturunan. Apalagi saat lebaran seperti ini. Kebahagiaan yang selalu mereka bagi hanya berdua dahulu, kini hanya tinggal kenangan. Lebaran ini, sekali lagi ia ingin segera berakhir.

Hingga malam pun tiba. Lampu padam, mimpi pun temaram.

2 KOMENTAR