Sumber gambar dok. pribadi

Aku memulainya saat sedang duduk di pinggir sungai Banjir Kanal. Menikmati sore dengan segelintir keprihatinan. Kota yang pernah dijuluki VenetiΓ« van Java atau Venesianya Pulau Jawa, seakan menguap begitu saja. Sungai-sungai yang mengalir di tengah kota Semarang sudah tidak indah sama sekali. Sungai yang dulunya bersih, sekarang sudah menjadi hitam pekat.

Masyarakat modern yang semestinya lebih mengenal pendidikan. Nyatanya, tidak selaras dengan ilmu pengetahuan. Sungai bukan lagi tempat yang ramah buat ekosistem kehidupan. Padahal air yang mengalir akan sampai ke lautan. Sedang manusia tahu, hujan terjadi karena peran serta laut. Ibarat air susu dibalas air tuba. Air hujan yang bersih kembali ke laut dengan racun dan sampah.

Tidak hanya Semarang, tetapi hampir seluruh kota memiliki masalah yang sama. Tidak ada perhatian serius terkait saluran air. Normalisasi hanya berbicara menanggulangi banjir. Sudah lumayan sih, tetapi kenapa tidak sekalian airnya juga dinormalkan? Air diambil dengan kondisi bersih sudah semestinya dikembalikan dengan sediakala. Susah? Pasti! Sulit? Tentu! Sudah selayaknya kita harus bertanggung jawab.

Sekiranya Aquaman benar-benar ada, tentu kita tidak akan seenaknya sendiri mengotori perairan. Mungkin akan terjadi perang dunia ke 3 antara penduduk laut dan daratan. Kalau banjir saja belum cukup, perlu tsunami besar yang mengembalikan semua sampah dan limbah ke asalnya. Saat itulah, manusia baru terbelalak atas segala perbuatannya.

Toh yang diproduksi bukanlah barang-barang kebutuhan primer. Hanya makanan ringan dan minuman-minuman yang tidak penting. Namun, hal itu yang menyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Hanya karena iklan kita rela mengeluarkan uang untuk mencemari tubuh dan alam semesta. Lucu ya? Katanya sih manusia, tetapi kok tidak punya akal pikiran.

Prihatin rasanya, melihat sampah dan keruhnya air sungai Banjir Kanal yang dibuat latihan pendayung kayak. Mereka terpaksa terjun ke sungai cemar dan membelah sampah. Hanya demi cita-cita besar yang ingin digapai. Telihat jelas, senyum dan harapan besar disetiap dayung yang membuat kayak melesat sampai finis.

Berani kotor itu bagus, tetapi mengotori alam itu perbuatan tercela. Pengelolaan air limbah rumah tangga mestinya diperhatikan secara seksama. Minimal ada upaya bersama untuk menggunakan produk-produk yang tidak hanya halal, tetapi ramah lingkungan. Sehingga keseimbangan alam akan tetap terjaga. Paling tidak dapat meminimalisir kerusakan alam semesta.

Sangat ironis ‘kan? Kerja keras mencari uang, tetapi dibelanjakan untuk membeli barang-barang perusak lingkungan. Kita memperkaya suatu perusahaan yang sama sekali tidak perduli pada kelestarian alam. Celakanya, kamu dengan suka rela melakukannya. Tanpa sadar kita telah bersepakat mempercepat datangnya kiamat.

Sekali-kali, ulang tahun suatu kota dirayakan dengan membersihkan lingkungan. Menjadikan kota paling ramah untuk semua makhluk hidup. Tidak hanya manusia, tetapi semua ciptaan Tuhan. Ikan bisa hidup dengan gembira di selokan. Tidak ada pemandangan tumpukan sampah yang menggunung. Hitamnya air sungai dan bau busuk yang menyengat. Saya rasa akan banyak penolakan untuk merayakan ulang tahun dengan kegiatan tidak populer ini. Seandainya bisa? Pasti Semarang akan kembali menjadi Venesianya Pulau Jawa.

10 KOMENTAR

  1. Ultah Kota Semarang tanggal 2 Mei , ya Tuan? Ah, Tuan, mengapa dipos sekarang?πŸ˜’

    Oya, kanal itu apa, Tuan? Enggak semua orang tahu, loh. Aku saja baru tahu pas baca esai ini. Wkwkkw. Tuan, suka sekali bikin aku buka kamus dan searching lagi. *Hobiku tuh buka kamus dan wikipedia dan yang baca komenku mendadak melakukan apa yang aku lakukan kayaknya, wkwkwkkw. πŸ™ˆ

    Paragraf 5, menohok banget. Namun, itulah kenyataannya. 😎

    Jika Tuhan izinkan, aku mau ke Venesia yang di Italia. *Berani bermimpi itu baik, terbangun dari mimpi itu yang menyakitkan wakakakak (tepuk jidat sendiri ah πŸ˜‚πŸ˜‚)

    ** Lanjut tidur ah. Gara-gara ketiduran dan kembung perut nih terjaga. Alzheimer menanti, Tuan. Ingat, ingat, ingat! πŸ˜…πŸ˜–πŸ˜Œ

    *** Salam buat ikan di selokan Kota Semarang dan sekitarnya. Yang sabar dan kuat hati, ya. Manusia memang menyebalkan, kecuali yang menulis komentar ini. Kalau yang menulis esai ini embuh. πŸ˜±πŸ˜‰

  2. Pagi venesia yang tenggelam, πŸ€“πŸ€“. Yaps, ultanya masih Mei, tetapi sudah dimulai kok acara lomba-lomba gitu. Ya, itulah acara ulta selalu begitu dari tahun ke tahun. Apa enggak bosen yaa?

    Kamu mau ke Venesia? Wow, sayang cuma mimpi yaaa 😊😊, tetapi bagun dari mimpi tahu-tahu sudah di sana πŸ€“πŸ€“. Kan seneng yaaa πŸ˜‚πŸ˜‚. Negara mana lagi yang mau kamu kunjungi, kak?

    Aku terbangun karena tidur berteman lapar, kak. Hahha al el dul aja yaaa wkwkkw πŸ€“πŸ€“

    Haha slaam balik dari ikan yang sudah kupindah dari selokan ke kolam. Dia bilang padaku “terima kasih tuan Textratis. Kamu memang manusia yang baik” wkwkw jadi aku tidak tahu kalau manusia yang lain, ya 😊😊

  3. Wowww. Setuju Kak. Daripada nerbangin lampion di atas banjir kanal, selain mencemari langit, juga residu lampion jatuh entah di mana.

    Mending bersih-bersih sungai. Tapi kok yaaa nggilani. Wkwk

    Barangkali habis itu orang yang pacaran di depan BI bisa lebih menikmati suasana wkwkwk

    Share ig dan tag pak hendrar bisa nih wkwkwk