Pixabay/Pavel-Jurca
“Kenangan tidak pernah gagal mengantarku pada satu titik perasaan: kerinduan. Kenangan selalu memaksa ruang di ingatanku untuk menyinggahi kembali setiap momen dan tempat yang pernah aku datangi. Kenangan tidak pernah lelah melemparku ke masa lalu. Pada sosok seseorang yang pernah mengisi ruang di hati. Seseorang yang mengalah pergi dan memutuskan berdamai dengan keadaan dan berhenti berjuang untuk semua rencana masa depan yang telah kami rancang bersama.”

Mungkin juga suatu kerinduan saat kakiku membawa langkahku menuju kedai kopi di satu sudut Kota Semarang senja ini. Mungkin juga karena aku memang terlalu merindukannya sehingga sulit bagiku menolak undangannya untuk kami bertemu. Mungkin juga karena deraan rasa bersalah untuk apa yang pernah terjadi di masa lalu.

Ada keharuan yang menyeruak yang membuat perasaanku mendadak sendu. Ada satu masa di mana aku kerap menghabiskan waktuku dengan seseorang yang telah mencuri semua ruang di kepalaku. Seseorang yang sampai detik ini tetap tersimpan rapi bersama lipatan waktu.

Tiga tahun berlalu, tak sekali pun bayangnya benar-benar pergi dari kepalaku. Mengalir di dalam darahku, pada setiap embusan napasku, dan mencuri semua ruang kosong di hatiku. Sosoknya tidak pernah berhenti membuat aku rindu, menyesakkan dadaku, kadang membuat mataku menghangat.

Mengingatnya tidak saja membuat aku bahagia, tetapi juga terluka. Sosok yang selalu membuat perasaanku tak karuan. Bagaimana tidak? Dialah satu-satunya perempuan yang membuat aku menyukai senja dan fajar pagi serta makna yang tersirat di dalamnya. Dia adalah Anneth, yang pernah menjadi perempuanku.

Kumasuki kedai kopi yang pernah menyimpan semua kenanganku bersama Anneth. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu. Entah mengapa, aliran dingin seakan menyergapku. Sementara ingatan memaksaku untuk kembali memutar masa lalu. Pada kursi, meja, dan dinding di sudut kedai tempat aku dan dia kerap menghabiskan banyak malam berdua. Untuk setiap ciuman curian yang kerap aku lakukan sehingga membuatnya mendelik. Untuk setiap gengaman jemari hangat seseorang, itulah Anneth. Kenangan itu seketika menyempitkan dadaku disertai nyeri yang menggigit.

“Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk datang.” Suara halus Anneth menyeruak keheningan yang mengungkung kami sejak kami bertemu, sekaligus memutus perjalananku memutar kembali hari usang yang telah berlalu. Ada getar samar yang tertangkap telingaku. Ada binar rindu yang aku lihat di matanya.

Sama seperti dulu, aku tidak pernah bisa menahan diri untuk selalu menatapnya. Seraut wajah yang tidak pernah bisa lepas dari ingatan dengan sepasang alis yang letaknya berjauhan. Dulu, aku begitu meyakini bahwa dia akan berjodoh dengan orang yang jauh. Dulu, aku meyakini bahwa orang jauh itu adalah aku. Aku meyakini bahwa dialah sosok yang akan membersamai langkahku sampai ujung usia. Dulu ….

“Berapa lamu kamu di sini?” Anneth menatapku lekat, hangat, dan berbinar.

“Besok harus sudah kembali,” jawabku kaku, sibuk meredam riuh di dada. Bibirku terlalu kaku untuk membentuk seulas senyum. Dari dulu, Anneth tidak pernah gagal membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Sosok biasa yang membuat perasaanku menjadi luar biasa.

Anneth menghela napas, memainkan jemarinya, lalu menunduk canggung. Tidak banyak yang berubah. Anneth seperti tiga tahun lalu. Andai aku bisa melipat waktu, aku hanya ingin kembali pada masa itu. Masa tatkala kami hanya merasakan letupan kebahagiaan. Ada banyak momen manis yang kami buat bersama. Lawang Sewu, Kota Lama, Pasar Kembang Kalisada, dan Kampung Pelangi adalah tempat-tempat kenangan yang pernah kami singgahi. Aku merindukan semua itu. Tanpa sadar, desahan panjang terlepas dari mulutku.

Sementara tatapan Anneth berubah ekspresif. Mungkin dia pun merasakan apa yang aku rasakan dan aku selalu tak berdaya menatap matanya. Aku selalu terluka dan luluh lantak melihat kesedihannya. Kupalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan Anneth agar tidak bisa membaca raut wajahku dan apa yang aku rasakan saat ini. Sejak dulu, Anneth tidak pernah gagal membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Anneth meninggalkan kenangan indah sekaligus menyedihkan. Kenangan yang membuat aku sulit berpaling hati pada perempuan lain. Mungkin benar yang orang katakan, ibu adalah cinta pertama anak lelakinya dan Anneth adalah perempuan pertama yang membuat aku benar-benar jatuh cinta pada lawan jenis. Meski aku tidak dekat dengan ibuku yang keras dan kerap bertengkar serta tak sepaham, semua itu melekat di ingatanku. Menyebalkan sekali, aku jatuh cinta dengan karakter ibuku. Anneth memiliki karakter menyebalkan itu.

“Kamu sangat tidak berperasaan. Tidak ada manisnya sedikit pun. Terutama padaku,” ujarku dengan raut kubuat sesedih mungkin. Aku kerap ia buat kesal, setiap kali mencoba bersikap manis atau manja padanya, Anneth selalu mendelik atau mengejekku manja. Kami memang tidak seperti pasangan lain yang tampak selalu mesra. Namun, ikatan hati di antara kami tak ada yang meragukannya.

“Apa aku sedingin itu, Juan?” Anneth mengerling dengan raut tak percaya.

“Sangat dan bagiku kamu sangat menyebalkan. Terlalu menyebalkan.” Aku mendengus.

“Celakanya, kamu mencintainya,” balas Anneth, terkikik.

“Siapa bilang?” Aku mendelik, menatap tajam ke arah Anneth.

Anneth cuma mencibir cuek, membuatku tergoda untuk mengacak rambutnya. Hal yang sangat ia benci. Aku suka melakukannya. Aku ingin Anneth tahu bahwa itulah ungkapan rasa sayangku padanya.

“Salah. Aku bahkan tergila-gila padamu. Sehari saja tidak melihat dan mendengar suaramu, rasanya membuatku sulit bernapas. Perasaan itu sangat menyebalkan. Sangat menyiksa.”

“O ya?” Anneth kembali terkikik sembari menghindari tanganku yang siap mengacak rambutnya.

“Sampai kapan kamu akan berhenti memperlakukan aku seperti bocah, Juan?” protesnya, sewot. Dia menatapku dengan ekspresif.

“Sampai kita memiliki anak kita sendiri, Anneth.” Aku balas menatapnya penuh kesungguhan. Aku memang kerap bertingkah konyol dan sedikit berlebihan. Kami baru semester empat dan aku sudah berpikir terlalu jauh tentang masa depan kami. Mungkin, aku memang terlalu takut kehilangan dia. Dua tahun membersamai harinya membuat aku begitu yakin bahwa dialah masa depanku. Cinta dalam hidupku.

“Sedalam dan sekuat itukah perasaanmu padaku?” Anneth menatapku lekat. Lama. Mata kami bertemu pada satu titik. Aku yakin, Anneth pun memiliki perasaan yang sama. Saat itu, betapa besar keinginanku untuk memeluk Anneth. Mendekapnya erat. Bila perlu tidak melepasnya.

“Kamu harus mampu meluluhkan hati ibumu dulu untuk bisa sampai ke sana. Mampukah kamu melakukannya, Juan?” tegas Anneth, menggodaku.

Aku tak berkutik. Ibuku memang sosok yang tidak pernah sejalan denganku. Selalu bertentangan. Karena itu kami tidak pernah bisa akur, apalagi dekat. Sosok keras, tapi perasa dan kerap menangis karena aku. Ini benar-benar menyebalkan dan Anneth tahu itu.

Bagiku, Anneth adalah perempuan keras hati dan menyebalkan yang kerap membuatku tak berkutik. Konyolnya, aku selalu merindukan makian sayangnya, perhatian kecilnya, dan celotehnya yang selalu membuat telingaku berdenging.

Sebenarnya, terlalu banyak perbedaan yang mengurai jarak di antara kami. Anneth yang menyukai minuman cokelat, sedangkan aku kopi hitam pekat dengan sedikit gula. Selera musik, film, dan bacaan kami pun berbeda. Apa yang aku suka, Anneth banyaknya tidak suka. Aku selalu menutup mata dengan semua perbedaan itu. Entahlah, aku sebal bila Anneth menyinggung tentang itu. Apa mencintai seseorang yang berbeda itu dosa atau suatu kesalahan? Sampai detik ini, aku tidak pernah menemukan jawabannya. Lagi pula, aku memang menolak untuk tahu kebenarannya.

Bersama Anneth, aku merasakan sesuatu yang membuatku merasa hangat dan nyaman. Melihat pijar hidup di mata Anneth dan rona manis di wajahnya, membuat aku menyadari bahwa aku terlalu sayang padanya. Hai, apa aku terlalu berlebihan? Anneth selalu membuat aku jatuh cinta dan jatuh cinta lagi. Perasaan menyebalkan yang membuat aku bahagia. Perasaan bahagia yang membuat aku selalu merindukan fajar pagi. Berharap segera bertemu Anneth lagi.

“Hmmm, soal pernikahanmu,” gumamku menghalau hening. Sekilas kulihat lingkaran platina itu di jarinya. Entah mengapa, sesuatu terasa menusuk dalam di sanubariku. Rasanya tak tertahankan. Secepat kilat itu pula kulempar padanganku ke kejauhan, menembus kaca kedai kopi. Pada lalu-lalang orang dan kendaraan yang berseliweran.

Sejenak mataku terpejam. Hari usang yang telah berlalu itu dengan pongahnya melintas di ingatanku. Hari saat ibuku menentukan jalan dan masa depan seperti apa yang harus aku tempuh. Sulit aku bayangkan dan terlalu menyakitkan. Sangat melukai hati. Hari saat aku menyadari bahwa Anneth harus aku lepas bersama luka yang aku torehkan di hatinya. Saat itu, aku merasa malu karena ketidakberdayaanku. Rasa kecewa, bersalah, dan terluka berbaur jadi satu. Menyesak di dada.

Sepotong percakapanku dengan Anneth menyeruak di ingatanku. Itulah percakapan terakhir kami karena setelah itu kami saling menghindar. Saling mencoba untuk tidak bertemu atau berkirim pesan. Saling menahan diri untuk tidak saling melukai. Ya, karena kami tahu dan sadar bahwa hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Bagaimanapun jalannya, kami tidak akan pernah bersatu. Perbedaan ini terlalu prinsipiel. Tidak hanya soal selera, adat istiadat, tetapi juga tentang keimanan kami. Hal sensitif yang tidak pernah kami singgung. Tepatnya, kami berusaha menghindari pembicaraan ke arah itu. Sampai Ibuku membicarakannya secara serius dengan Anneth.

“Jadi, hanya sampai di sini?” Suaraku lirih dan bergetar. Ketika itu aku tidak berani menatap wajahnya. Aku merasa menjadi lelaki yang tidak punya hati dan terlalu lemah. Tidak punya keberanian dan kekuatan untuk memperjuangkan cinta kami. Buktinya, aku takluk pada perbedaan yang ada di antara kami. Pada ultimatum orang tuaku. Pada cinta kami yang tidak pernah bertemu pada satu titik. Mungkin juga tak berujung.

Anneth menghela napas. Gurat letih terlukis nyata di wajahnya.

“Aku rasa memang ini yang terbaik. Dari awal kita berusaha abai bahwa tidak ada masa depan untuk kita. Kita terlalu egois. Akan banyak orang yang terluka bila kita bersama,” Anneth berujar pelan. Tatapannya menikam tajam. Tepat di manik mataku. Aku melihat luka yang terpeta jelas di matanya.

Tiga tahun yang harus berakhir dengan perpisahan. Bukankah kenyataan ini terlalu menyakitkan? Ibuku dengan tegasnya menolak kehadiran Anneth, bahkan meminta pengertian Anneth agar melepas aku dengan banyak pertimbangan dan alasan. Selain aku satu-satunya anak lelaki dan sulung di keluargaku, ternyata aku pun sudah dijodohkan dengan seorang anak kenalan Ibuku. Kami tidak menyangka bahwa hubungan kami akan berakhir seperti ini.

Kami sama-sama terluka. Itu sudah pasti. Yang sulit aku terima, aku tidak tahan melihat Anneth menitikkan air mata. Kenyataan itu sangat melukaiku, menusuk dalam di jantungku. Aku memahami karakternya. Anneth tidak sekuat apa yang tampak. Di balik sikapnya yang keras, bahkan terlihat masa bodoh, dia sosok yang perasa, mudah iba, dan menangis untuk hal-hal kecil yang bagi orang lain biasa saja. Konyolnya, aku menyukai dia karena segala yang bertolak belakang dalam dirinya. Detik ini, betapa aku ingin memeluknya. Mengacak rambutnya dan mengatakan, “Berhentilah menangis dan membuatku cemas. Tidak bisakah kita memperjuangkannya bersama?” Namun, semua perbendaharaan kata itu hanya sampai di tenggorokanku saja. Aku, tepatnya kami menyerah untuk melakukannya.

“Bagaimana bila aku merindukanmu dan nekat menghubungimu?” tanyaku getir. Sejujurnya, aku belum siap untuk berpisah. Belum siap tanpa dirinya. Belum siap untuk merindu.

“Jangan pernah melakukan hal itu, Juan. Kumohon, itu membuatku semakin terluka,” suara Anneth tak kalah getir dan lirih. Sorot matanya sendu dan tak berdaya. Gurat letih semakin terlukis jelas di wajahnya.

Aku hanya mampu menelan ludah. Kata-kata Anneth menorehkan bermacam rasa yang menyesak di dada. Yang bisa aku lakukan hanya meraih jemarinya dan menggenggamnya erat. Mungkin untuk terakhir kalinya. Dulu, batinku pernah berjanji tidak akan pernah melepaskan gengamanku. Ah, betapa aku akan kehilangan semua itu.

Anneth berusaha menarik tangannya, tapi aku menatapnya penuh permohonan. Kali ini saja, aku tidak ingin bersitegang. Tidak bisakah ia melakukannya untuk ribuan hari yang pernah kami miliki?

“Sudah cukup. Kumohon, lepaskanlah. Tidak akan mengubah apa pun,” protesnya dengan kilat mata serius. Suaranya begitu dingin.

Lidahku kelu, tenggorokanku tercekat, sesuatu menusuk dadaku. Sulit kupercaya, kalimat tajam itu keluar dari mulutnya.

“Bagaimana denganmu? Kudengar kalian membatalkan pertunangan itu,” suara Anneth mengembalikan aku dari perjalanan mengarungi masa lalu. Dia mengangkat wajahnya. Kutemukan riak halus di matanya dan gurat luka yang aku tahu siapa yang menorehkannya. Mataku memanas tiba-tiba.

“Mungkin kami tidak berjodoh,” gumamku dengan suara patah. Aku tidak menyesali batalnya pertunangan itu. Sebaliknya, aku bersyukur karena perempuan yang akan dijodohkan denganku menolak perjodohan itu karena sudah memiliki kekasih. Namun, semua itu tidak membuat aku serta-merta kembali pada Anneth. Ada banyak hal yang berkecamuk di kepalaku seandainya kami kembali bersama. Ada banyak pertimbangan yang membuatku sulit menyambung kembali jalinan kasih kami yang telah putus.

Aku tidak berani mengambil keputusan riskan itu. Keadaan menempatkan aku pada satu keputusan tak terbantahkan. Mengulang kembali sesuatu yang tidak akan pernah berujung adalah sesuatu yang melelahkan. Karena itulah tawaran bekerja di Timika tidak aku sia-siakan. Aku butuh waktu lama untuk bisa berdamai dengan hatiku. Aku masih belum berhasil menata kembali hatiku. Perasaanku. Nyatanya, sampai saat ini aku tidak pernah bisa berpaling dari Anneth. Sulit untuk memulai yang baru. Sulit untuk mengakui kalau aku baik-baik saja. Aku butuh keajaiban agar bisa melupakan kenangan dan menyembuhkan luka hati.

“Mungkin, aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Kamu mengerti, ‘kan?”

“Apa ada seseorang?” tanyanya kemudian.

Aku mendesah. Apa Anneth tidak tahu betapa dalam cinta yang dia tancapkan di hatiku? Namun, kalimat itu hanya tersimpan di pikiranku saja. Sesungguhnya, aku tidak pernah lelah memeluk kenangan tentang Anneth. Selalu tentang Anneth. Bisa jadi aku adalah tipe orang yang payah dalam hal melupakan. Aku terluka oleh usahaku sendiri agar bisa melupakan Anneth. Menyadari kenyataan itu, lagi-lagi dadaku menyempit seketika.

“Haruskah?” jawabku dengan suara patah. Kubiarkan mataku menatapnya cukup lama. Setelah sekian lama, dia masih saja membuat sel-sel di tubuhku kocar-kacir saat berada di dekatnya.

“Sama seperti tiga tahun lalu, tidak ada yang bisa kita lakukan,” Anneth berujar getir.

“Kita tahu itu. Setidaknya, kita pernah merasakan apa itu bahagia,” suaraku parau.

“Kamu benar, Juan. Ada sesuatu yang bisa kita kenang.” Meskipun harus berakhir dengan luka, lanjut batin Anneth.

“Maafkan Ibuku dan semua perkataannya yang melukai ….”

“Tidak, Juan. Ibumu benar. Kita tahu bahwa kita tidak bisa melakukannya. Tidak ada yang harus mengalah untuk hal satu itu. Kamu paham itu, ‘kan?” Anneth menggelengkan kepalanya, memaksa dirinya membentuk seulas senyum kaku. Selanjutnya kami biarkan keheningan yang mengambil alih waktu, hingga ….

“Baiklah, terima kasih sudah mau meluangkan waktumu untukku,” Anneth berdiri dan meletakkan selembar kartu undangan berwarna emas dengan pita cokelat di atas meja, yang sesaat tadi dia ambil dari tasnya.

“Siapa tahu kamu berubah pikiran,” ujarnya dengan raut menebar harap.

Aku diam dalam kelu. Kuberanikan diri menatap Anneth tepat di manik matanya. Andai bukan lelaki, mataku pasti sudah basah. Akhir perjalanan cinta kami begitu rumit dan melelahkan. Menguras hati dan perasaan serta mengharuskan kami untuk berhenti memperjuangkannya. Untuk kali kedua, kami benar-benar menyadari, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang berani memulai kembali.

“Apa dia lelaki yang baik?” Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari mulutku. Sesaat aku menyesalinya, tetapi bagaimana bisa aku menahan perasaan tidak relaku. Sejujurnya, aku merasa dalam situasi yang tidak baik baik-saja. Sangat tidak baik.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Anneth. Ia hanya menatapku hangat dan lama. Sekilas, aku melihat bayang bening di selaput matanya, tetapi aku terlalu bodoh untuk menyimpulkan.

“Kamu tetap yang terindah,” suara Anneth lirih dan bergetar.

Aku tertegun, kehilangan kata-kata. Masih tertegun dan kehilangan kata-kata ketika Anneth berlalu dari hadapanku setelah menganggukkan kepalanya. Sejak awal memang tidak ada yang bisa kami lakukan. Semesta sepertinya tidak pernah berpihak pada kami. Kali ini pun aku harus merelakannya pergi.

“Apa pun caranya, kamu harus berbahagia, Juan,” kata-kata Anneth sebelum berlalu terngiang kembali.

Aku hanya bisa terpaku. Kelu dalam diam. Tiga tahun tidak mampu menambal lubang di hatiku, bahkan menambah lubang baru. Satu jalan sunyi terhampar panjang di hadapanku, menyadari dia bukan milikku lagi. Celah untuk itu sudah tertutup rapat.

Suara menyayat Steve Garrigan mewakili perasaanku malam ini. Mengantar langkahku menyusuri kota kenangan yang menyimpan kisahku bersama Anneth.

But if you loved me
Why’d you leave me?
Take my body, take my body
All I want is, and all I need is
To find somebody
I’ll find somebody like you

Langit Semarang tanpa bintang malam, membawa langkah Anneth menjauh. Desahan halus terlepas dari mulutnya. Meski sudah ia putuskan untuk berdamai dengan hati dan keadaan, tetap saja ada yang menikam dalam di sana. Rasanya tak tertahankan. Tiga tahun berlalu, tak pernah ada yang berubah dengan dirinya. Begitupun hatinya. Segala rasa itu selalu menyesakkan dadanya dan membuatnya tidak pernah berhenti menangis.

Ada rasa yang tak juga melebur. Ada janji yang tidak pernah bisa digenapi. Ada rencana masa depan yang tidak bisa diwujudkan, bahkan untuk sepotong kalimat pengharapan pun begitu sulit untuk ia dapatkan. Yang pasti, dirinya bukan potongan terakhir yang takdir persiapkan untuk menemani Juan sampai ujung usia. Semesta tak pernah merestui mereka.

Satu masa dalam hidupnya, pernah ada rasa yang singgah dan sangat layak untuk ia kenang. Selama tiga tahun ini ia telah belajar banyak bagaimana menyimpan kenangan dan menjaga luka. Perlu waktu lama untuk menata kembali hatinya agar bisa membersamai sosok lain yang dua minggu lagi akan menjadi jaminan masa depannya. Tempatnya berbagi bahu dan peluk. Berbagi masa depan.*

28 KOMENTAR

  1. Puanjaaange kak. Ya Allah. Haha.
    😄

    Kadang kita gak harus memeluk semua keinginan kita untuk menjadi nyata. Ada orang-orang yang harus kita dahulukan daripada diri sendiri. Ada hal2 yang harus kita ikhlaskan ketimbang memilih egois. Semoga yang kita dapat lebih baik dari yang diikhlaskan.

    Lain kali coba latar belakangnya di Medan kak. Annethnya pasti lebih garang lagi pasti. Haha

    Kesimpulan yang bisa kuambil 😄

    • Sebenarnya lebih panjang, hampir 2900 kata. Ini sudah aku pangkas menjadi 2600 sekian. Harusnya memang untuk 2 part. Wkkwwk.😄😉

      Hiks. Intinya sih, apa yang menurut kita baik, tidak harus kita miliki. Semua orang memiliki kisah dan jalan hidupnya masing-masing. Huuuuaaaaa sepagi ini kamu bawa irisan bawang ke sini.😵😵

      Thank, apa pun kesimpulannya. Intinya, aku suka bikin cerpen. Selalu menyenangkan, sekalipun kisahnya menyedihkan.😁😍

      • Ups, kelupaan. Maaf, Mue, aku enggak hapal dan ngeh karakter cewek Medan. Segarang itukah? Kayaknya, aku lebih suka karakter yang wajar saja deh. Normal. Wkwkwkkw.😉😄😅

        Nah, masa kecil Tanteku pernah tinggal di Medan, lalu ke Kota B, dan terdampar di Kota S. Orangnya halus, sabar, dan penyayang tuh. Enggak kasar juga. Suaminya orang A. Bisa dibilang jauh banget dengan aku yang sejak lahir tinggal di Pulau J. Wkkkw.😝

    • Wih, aku suka lagu itu, Bon. Liriknya panjang dan jleb banget. Kayaknya kalau bahas lagu kamu bisa nyambung denganku deh. Asal jangan lagu yang berbau Korea. 😉😆

      Ada yang harus diingat dan layak untuk diingat. Ada yang harus dikubur seiring waktu dan memang lebih baik tidak mengingatnya bila itu terlalu menyakitkan. Ada yang susah sekali untuk dilupakan, sekalipun itu menyakitkan. Tergantung suasana hati, Bon. *Kalau untuk kamu, sebaiknya lupakan saja, Bon. Apa pun itu. Toh, hnaya kintasan semusin yang tidak harus kamu kenang selamanya. Wkwk😝😜

          • 😱😱😱 Serius, Bon. Aku enggak suka lagu dangdut. Aku pilih lagu wajib saja deh.

            Kenangan tentang apa yang bikin kamu lupa-lupa ingat terus? Wkwkwk, cinta mati kamu sama sosok bernama kenangan itu. Idih, enggak ikutan aku. Mendadak mual. *Menulis, Bon, menulis kalau kamu galau terus.😒😜😝

          • 😂 ada beberapa lagu dangdut yang aku suka tapi itu yg jaman dulu bukan dangdut koplo kaya sekarang wkwkk 😜😜😜……
            Menulis bukan media terapiku Kak 😂😂😂 🙄🙄🙄. Jadi kalok aku galau justru streaming yutub nonton acara lucu semisal reality show di Korea gitu 😉😉😉😉

          • Media terapiku apa, ya? Bingung aku. Kayaknya menangis deh. Rasanya melegakan. Wkwkwk. Selalu melegakan. Untuk banyak hal, aku mudah menitikkan air mata. Menyebalkan memang. 😥😢

    • Aku pun menikmati proses menulisnya tuh. Kalau tidak salah lebih dari tiga hari deh. 😊

      Itulah yang namanya jalan hidup yang dibilang takdir kayaknya, ya? Hehehehe.😞

      Susah banget untuk semangat menulis. Sering enggak mood. Thank, sudah baca meskipun panjang. Hehehe.😉😘

  2. This is beautiful story mam 😻😻

    Cinta gak harus memiliki 😂😂

    Mam kenangan harusnya diingat atau dilupakan?

    Juan dan Anneth memiliki kisah cinta yang luar biasa meskipun akhirnya mereka tak bisa bersama.

    Cerpen yang sederhana namun luar biasa bagusnya mam..

    • Wow, anak SMA sudah tahu cerita cinta kayak gini, ya? Apa kabar, Deris? Anak yang dapat nemu di Pm. Wkwkkw. Bagaimana aku harus memanggilmu di sini? Katakan sesuatu agar aku tidak salah. Akhirnya, kamu terdampar juga di sini, ‘kan? Selamat datang di Penakata. Jangan lupa menulis, ya? Ungkapkan apa yang ingin kamu ungkapkan. 😉😉

      Menyedihkan, ya? Itu emojimu sampai menangis sambil tersenyum. Kamu selalu tepuk jidat kalau aku selalu menulis tentang cinta. Wkwkwk. Menulis tentang persahabatan atau tentang kamu juga itu sudah bentuk cinta, ‘kan? Tentang cinta philia, bukan eros. Lakukan itu di sini dan di sana. Apa pun, yang penting jangan berhenti menulis. Suatu waktu aku harus menemukanmu di mana pun kamu berada. Hiks, tanggung jawab lo kalau mataku bengkak. 😊

      Jangan sering ganti nama pena juga. Bertanggungjawablah dengan nama yang kamu pakai. Jangan berlindung di balik nama pena untuk membenci, menghujat, atau menjatuhkan seseorang, tetapi berkaryalah. Semangat, Deris. Aku akan menemukanmu di mana pun. Itu janji kita, bukan? Jangan pernah menghilang dan melakukan itu padaku.😥😅😭

      Kenangan ada yang harus diingat, layak diingat, harus dilupakan … entahlah. Kamu sendiri yang tahu perasaanmu dan isi hatimu.😉

      Juan dan Anneth, ada di antara miliaran manusia. Jadi ingat lagu “Perahu Kertas”. 🎶Kubahagia kau telah terlahir di dunia dan kau ada di antara miliaran manusia, dan kubisa dengan radarku menemukanmu.🎶

      Terima kasih, Deris, sudah berkenan membaca meskipun panjang dan aku salah copas tulisanku ini. Sebenarnya, yang sudah aku edit bukan ini. Ada beberapa typo tuh. Hiks.😭

      * Hei, kapan tulisanmu bisa aku baca di Penakata? Aku tunggu dan jangan lupa kirim link-nya. Semangat! Tetap semangat! Selalu semangat! 😘😘😘

  3. “Kamu benar, Juan. Ada sesuatu yang bisa kita kenang.” Meskipun harus berakhir dengan luka, lanjut batin Anneth.

    *Kak Ana, ini masih POV satu kan? Hiks aku menikmati baca ini dari awal, tapi rasanya down setelah nemu kalimat ini. Hiks maafken aku.

    Selanjutnya kami biarkan keheningan yang mengambil alih waktu, hingga ….

    *Kak misal cerpen ini menceritakan kembali alias Juan bernostalgia dengan momen pertemuannya. Kalimat agar cerita ini bergulir itu masih oke menurutku, tapi kalau real time, ini masuk cacat logika dari kacamataku.

    “Baiklah, terima kasih sudah mau meluangkan waktumu untukku,” Anneth berdiri dan meletakkan selembar kartu undangan berwarna emas dengan pita cokelat di atas meja, yang sesaat tadi dia ambil dari tasnya.

    *Kak, setelah dialog tanpa diikuti dialog tag, bukankah harusnya pakai tanda titik?
    Karena kalimat, “Anneth berdiri …. dst.” Adalah kalimat yang bisa berdiri sendiri. Kulihat Kak Ana melakukan ini beberapa kali, sedang setahuku tidak boleh.

  4. Ini sudah POV 3. Hehehe. Aku memang ribet dan suka sekali menggabungkan POV dan aku menikmatinya. Ini salah satu kiatku agar tulisanku mudah menembus media cetak dan percayalah, aku selalu berhasil. Wkwkwk. Maafkan, bila yang bacanya merasa bingung atau ribet. Aku akan terus melakukannya karena beberarapa media cetak melakukan hal ini. Dengan melakukan penggabungan POV atau menggunakan POV 2, tulisanku selalu lolos. Untuk cerpen yang ribet-ribet ini aku selalu dapat bonus daripada yang hanya menggunakan POV 1 saja. Bahkan, bisa menjadi cerita utama. Sekali lagi, maaafkan aku yang matre ini. Hiks. 🙂

    Kalau dibilang cacat logika, aku serahkan saja pada penilaian pembacanya. Aku akan menerima penilaian apa pun. Namun, menurutku tidak cacat logika. Coba baca lagi dari kalimat, “Bagaimana denganmu? Kudengar …,” suara Anneth mengembalikan aku dari perjalanan mengarungi masa lalu.

    Nah, aku akan tetap menggunakannya tuh Kak Fi dan kurasa editor yang menangani tulisanku tidak protes. Peace ah! Hehehehe. Apa pun itu, aku suka ada seorang Yukeneyza di Penakata. *Baik-baik dan kompak selalu dengan Tuan Jibril, ya? Selalu bekerja sama dan saling mendukung. Suatu waktu, boleh aku bilang kalau aku bangga bisa mengenal kalian berdua di dunia aksara dan kata. Hiks, aku benci bila ada irisan bawang di kolom komentarku.

    Nah, untuk dialog tag, aku tahu benar kalau aku salah. Parahnya lagi, aku melakukan kesalahan ini sejak tertarik dengan dunia ini dan ada ratusan, ah kukira ribuan dialog tag model di atas itu yang selalu tidak kuakhiri titik. Kebiasaan ini terjadi karena seorang editor di sebuah majalah remaja pernah membahas hal ini (bila kalimatnya belum selesai, bukan bisa berdiri sendiri) sebaiknya letakkan tanda koma. Karena tidak ada satu pun tulisanku yang diedit oleh editor di mana aku mengirimkan tulisanku (lebih dari 10 media cetak), aku lanjut terus tuh.

    Nah, untuk hal ini aku sudah tanya Uda Ivan. Semoga aku bisa menerima jawaban dari Uda secepatnya. Kalau Uda bilang salah total, aku akan mengubah kebiasaan buruk, jelek, dan memalukan ini. Bila Uda bilang enggak masalah. Aku akan tetap menggunakannya. Ah, mungkin aku akan beradaptasi deh. Aku enggak suka sesuatu yang menyalahi aturan. Itu aku lo, yang lain bebas. 🙂

    ** Terima kasih sudah membaca cerpenku dan meluangkan waktu untuk mengoreksinya. Jangan pernah bosan dan lelah. Sebab, selama ini aku merasa lelah harus belajar sendiri, tanpa ada yang mengoreksi.

    *** Aku baca cerbungnya besok pagi, ya? Nanti malam, aku harus fokus dengan sesuatu. Hehehe.

      • Nah, aku sering melakukannya. 😎😝

        😂😂😂 Bon, kalau yang jelek jangan samaan dong. Biar aku saja. Kalau ada yang sama rasanya enggak keren ih! *Ngakak so hard dan nangis guling-guling.

        **Bon, kapan kamu menulis lagi? Jangan komen saja kayak aku. Aku enggak suka ada yang sama. Huuuaaaaa.😵😵😵

    • Kalau emang POV gabungan, tentu tidak jadi soal. Sah dan aku mengakui itu kok, Kak. 😊

      Ya itulah, kalau udah berhubungan dengan selingkung dan kebijakan editor, aku nggak bisa berkata apa-apa. Legal saja. Cuma di tempatku nggak boleh. ✌️ Piss Kak Ana, nggak ada ujungnya kalau udah bahas soal kebijakan tiap media. Iya kan?

      Untuk penggunaan POV campuran oke juga, kok. Bisa aja dan boleh selama bisa menempatkan dengan baik dan benar. Hehee aku menghindari itu sih, tapi belum pernah nyoba untuk cerpen.

      Terima kasih loh, untuk semua doa Kak Ana, merujuk padaku atau Tuan Jibril. Sekalipun aku belum berkenalan dengan Si Tuan secara langsung. *Ngelesnya mode on, kenalannya sama aku, enggak pakai nama itu. 🤣🤣🤣

      Semoga suatu waktu bisa membuat bangga dalam artian yang sebenarnya.

      Aku juga masih belajar, Kak Ana. Aku juga suka dikoreksi sama Kak Ana, suka banget. Apalagi aku yang suka males ngedit kata baku dan tidak baku. Hehee

      Yuhuuu aku tunggu komentar Kak Ana di cerbungku. Bentar lagi tamat loh, Kak. Tapi bakal ada judul baru yang mengisi beranda Penakata ini. 😊

  5. Aku sudah lulus tahun ini maa, hehehe tentunya anakmu ini baik-baik saja maa. Panggil saja aku dengan username yang aku gunakan disini. Hehehe iya terdampar juga aku disini mam. Aku akan menulis kalo aku sempat mam.

    Iyaa mam menyedihkan, hehehe 😁. Kapan mama menulis tentangku?. Iyaa mam aku akan mencoba melakukannya. Pastinya mam, suatu waktu aku juga harus menemukan mama dimanapun mama berada, don’t cry mam 😘😘.

    Iya mam aku tak akan melakukannya lagi,
    Iyaa mam itu janji kita, aku tak akan melakukannya mam tenang saja.

    Oke mam.

    Seperti aku dan mama’kan?

    Sama-sama mam, lho kok bisa?

    Kalo ada waktu mam😁😁.
    Semangat juga mam…