Sumber gambar dok. pribadi

Judul Buku: Wisanggeni Sang Buronan
Pengarang: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Laksana
Tebal: 108 halaman
Tahun Terbit: Januari 2000
ISBN: 978-602-391-199-8

Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dan Dewi Darsanala. Anak yang tidak diharapkan karena bisa mencoreng nama baik para Dewa. Batara Brahma yang tidak lain adalah kakeknya, ditugasi untuk membunuh Wisanggeni sejak dia lahir. Bayi yang dibuang ke laut dengan gigitan bisa paling mematikan. Kalau harus hidup, hiduplah. kalau memang harus mati, matilah. Namun kakeknya tidak berniat membunuh. Buktinya, bayi itu masih dapat bertahan hidup, lalu diasuh oleh Hyang Antaboga dan Batara Baruna sampai dewasa. Bersama Sri kresna mereka memberi nama Wisanggeni, bisa yang berapi.

Wisanggeni tumbuh besar dengan kesaktian yang luar biasa. Utusan para Dewa, semuanya mati di tangannya. Dia hanya ingin mencari ayah dan ibunya. Alasan sederhana yang mampu membawanya sampai ke kahyangan dan memorak-porandakan jagat para Dewa.

Rasanya memang seru seperti cerita silat. Karena ada adegan perang yang dahsyat. Bijak seperti buku filsafat. Banyak sekali nilai kehidupan yang bisa kita ambil. Ringan seperti hiburan. Pembawaan cerita yang cair dan mudah dipahami. Mampu membalik kesan cerita wayang yang berat menjadi ringan.

Apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan oleh takdir? Apabila dalam cerita, Wisanggeni mampu menemukan jawaban. Mungkin akan lebih indah kalau kamu menemukan jawaban, dengan membacanya sendiri. Saya tidak mau menodai makna sastra yang dalam dengan keterbatasan kosa kata.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar tangan. Tentunya, hal ini akan memudahkan untuk membayangkan sosok tokoh dalam cerita.

Sayangnya, ceritanya kurang begitu panjang. Saya yang menikmati cerita seakan masih haus akan kelanjutannya. Mungkin bagi yang belum pernah mengenal wayang, akan sedikit bingung dengan nama-nama tokoh. Sehingga dibutuhkan pengantar lain untuk tahu siapa tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan.

Secara over all menarik. Cerita wayang tanpa harus diolah secara kekinian, tetapi bisa tertutur dengan dinamis. Bahkan kalian baru akan sadar, saat sudah mulai akhir-akhir cerita. Bahwa ini hanyalah pertunjukan wayang yang dimainkan dalang dengan judul “Wisanggeni” dalam satu babak.

10 KOMENTAR

  1. Wah belajar pewayangan nih. Back to culture keren Pak Textra πŸ˜πŸ˜‰.Semangat berliterasi buat semua sahabat Penakata yang keren dan kece. Saling bertemu memiliki passion yang sama penyuka buku ☺☺☺…
    Go go go fighting and hwaiting gaesss.
    Semangat meraih mimpi 😎.

  2. Wah Kak Textra, yang ini sangat bagus “Apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan oleh takdir?”
    Bisa dijabarkan dan didebat beratus-ratus kali haha.

  3. Bisa yang berapi adalah arti nama dari Wisanggeni. Kalau Textratis punya arti apa, Tuan? Apakah seorang Textratis mampu menjadi bisa yang berapi? Ah, itu yang ada di pikiranku mengingat katakter seorang Textratis. *Kabur ah, kayaknya aku bikin masalah nih. Wkwkkwk.🚢🚢🚢

    ** Koleksi Tuan baru ini saja, ya? Beli lagi yang lain, Tuan. Tuan resensi lagi agar kami bisa bacanya. Bagaimana dengan “Sepotong Senja untuk Pacarku”, “Negeri Senja”, atau “Saksi Mata” kayaknya keren tuh. Terbitan Bentang. Semangat, Tuan! Salam buat Wisanggeni di kehidupan nyata (itu juga kalau ada).πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»