foto @dudukbelakang

Judul buku: Empat Bulan di Amerika

Penulis: Hamka

Genre: Travelogue

Penerbit: Gema Insani

Tahun terbit: Cetakan Pertama, Mei 2018.

Jumlah halaman: xii + 304 halaman

Harga: Rp75.000 (Pulau Jawa)

 

Wara/blurb

Setelah mendatangi negeri Arab untuk mencari sumber kekuatan jiwa, undangan pemerintah Amerika Serikat untuk datang ke negeri Paman Sam disambut Hamka dengan gembira. Meskipun untuk kali pertama dan mendapat kesulitan, hal itu tidak menghalangi Hamka untuk pergi ke Amerika mencari sumber kekuatan pikiran.

Perjalanan dalam dunia pergaulan modern abad ke 20 ini seperti lorong waktu yang membawa kita ke masa lampau kemudian kembali ke masa sekarang lalu mengantarkan angan dan pikiran kita ke masa depan dengan sekejap membawa nilai, norma, dan hikmah sejarah.

Empat bulan perjalanan Hamka ke Amerika menjadi perjalanan yang membawanya memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tentang kehidupan beragama manusia modern, tentang Tanah Air tercinta, Indonesia, dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia, dan tentang hakikat diri seorang manusia: siapakah aku, di mana tempat aku berdiri, dan untuk apa aku hidup.

 

Sinopsis

Sebagai utusan Kementerian Agama Republik Indonesia, Hamka mengunjungi negeri yang berjuluk Paman Sam itu dengan predikat tamu kehormatan. Beliau ditemani seorang kolega yang bernama Yunus untuk menerjemahkan bahasa, karena bahasa Inggris Buya yang tidak terlalu lancar.

Setelah tiba di Amerika, titik awal perjalanan Hamka selama di sana adalah kota Washington. Sekitar dua puluh hari mereka beradaptasi di tempat bermukimnya “pusat politik” Amerika itu, barulah Buya Hamka dan saudara Yunus melanjutkan lawatan ke banyak negara-negara bagian Amerika lainnya.

Ke New York, Berbeda dengan Washington yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, New York adalah pusat ekonomi. Lokasi berdiri kokohnya pasar-pasar multinasional, arena mengalirnya dolar-dolar beserta kesibukan manusia-manusia yang berlarian di dalamnya.

Menilik kegiatan akademisi Barat di masing-masing Universitas terkemuka. Oxford, Cambridge, Cornell, Michigan dan lain sebagainya. Perpustakaan-perpustakaan akbar dengan buku-buku di dalamnya yang “hanya” berkisar 1.000.000 jilid. Tidak memungkiri menjadi salah satu alasan kemajuan peradaban bangsa Amerika.

Politik, ekonomi, pendidikan, maka pastilah sebelum itu ada kehidupan spiritual, budaya dan sejarah. Buya juga menerangkan asal muasal benua Amerika dari segi sejarah bangsanya. Sejak kisruh perihal agama di Eropa, peristiwa pilgrims, perkelahian suku Indian dengan bangsa pendatang, bahkan kenang-kenangan Buya Hamka bertemu Father Divine yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.

 

Ulasan

Tahun 1952 Buya Hamka pergi melawat ke Amerika Serikat selama empat bulan, dari 25 Agustus sampai 25 Desember. Kutipan yang saya ambil dari Kata Pengantar Penerbit berikut ini adakalanya dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa cetakan buku yang tertulis di atas bertuliskan tahun 2018,

Empat Bulan di Amerika merupakan revitalisasi dari karya Hamka berjudul sama terbitan Tinta Mas, salinan naskah koleksi Ahmad Ahnaf.”

*revitalisasi =  proses, perbuatan menghidupkan kembali atau menggiatkan kembali.

Segala yang tertulis di buku bergenre perjalanan ini adalah hasil pengamatan dengan kebijaksanaan. Memandang dengan adil tanpa berat sebelah ke kiri maupun ke kanan. Objektif, dari sepasang mata seorang “santri” yang bertahun-tahun memperjuangkan Indonesia.

Di dalam buku ini Buya Hamka berkata bahwasanya hidup adalah pergumulan antara yang baik dan yang buruk. Itu tampak jelas setelah melihat kenyataan dan hakikat hidup di Amerika. Bagaimana Hollywood menghipnotis kaum muda-mudi dengan pop culture-nya, bagaimana disiplin dan budi pekerti dari ideologi mereka: pragmatisme. Kebijaksanaan dari kapitalisme atau sudut pandang berbeda dari liberalisme. Semuanya terus bergumul tentang kebaikan dan keburukan, tergantung kita sebagai manusia yang memandangnya ke sebelah mana.

Kita tidak mengetahui secara detail kondisi atau kesehatan Ibu Pertiwi kita masa itu, apakah membanggakan atau penuh carut marut. Tapi tentulah selalu ada hal yang bisa disyukuri sebagaimana selalu saja ada hal yang ingin dimaki. Yang terpenting dan yang paling patut di contoh adalah, walau sebegitu tergugah akal dan pikiran Buya Hamka melihat kemajuan hidup orang Barat tetaplah beliau tidak merasa rendah dengan Indonesianya.

Setiap melihat kecanggihan dan kenikmatan peradaban orang, Ia menekankan dalam hati, “Tanah airku pun bisa.” Dari seluruh perjalanan Buya Hamka di Amerika itu dapatlah kita ambil pelajaran bahwa kemajuan orang di depan kita bukanlah untuk di-iri hati-kan atau didengki-kan atau pun tenggelam dalam puja dan puji semata. Tetapi untuk dipelajari, ditiru, diambil yang baiknya dan jadikan yang buruknya sebagai pelajaran di masa depan.

 

Keunggulan Buku 

Pesan moral dan patriotisme adalah yang paling didepankan di buku ini. Dari kepiawaian penulis merangkai pengalamannya lewat kata-kata, semakin jauh kita membaca maka semakin banyak kita menemukan perbandingan negeri orang dan negeri kita sendiri, tapi kita tidak merasa “kecil” karena kebesaran mereka. Justru sebaliknya, membuat kita semakin mengerti dan optimis, betapa masih banyak hal dari kita, Indonesia, yang tidak ada oleh Amerika.

Layak direkomendasikan untuk siapa pun. Terutama anak-anak muda yang baru menyelesaikan SMA, yang hendak memasuki sekelumit problematika kebangsaan, nasional maupun di dunia secara keseluruhan.

 

Kelemahan

Beberapa kesalahan tik dan kata-kata yang tertulis dua kali ditemukan di buku ini.

5 KOMENTAR

  1. Wah. Bang Aan, pemenang review buku nih.

    Keren ya reviewnya lengkap.

    Iya bener. Tapi kebanyakan khususnya anak muda kalau udah belajar keluar malah lupa pulang. Bahkan di salah satu daerah Indonesia mana gitu, lupa aku, jadi yang dikirim ke India untuk belajar tentang listrik itu diganti ibu2 jadinya. Soalnya anak mudanya udah bberapa kali dikirim, eh malah ilmunya gk dibawa pulang. Mereka juga ikutan gk pulang dan kerja untuk orang luar. 🤔😵